Nasional, Uncategorized

Razia Kafe dan Busana Ketat, FPI Aceh Ditegur Bupati dan Piprotes Warga

FPI Nagan Raya, Aceh saat Merazia Kafe dan Busana Ketat (foto: Istimewa/Antara/BBC Indonesia)

Jurnalindonesia.co.id – Aksi Front Pembela Islam (FPI) di Kabupaten Nagan Raya, Aceh, yang melakukan razia kafe dan pakaian ketat menuai protes dari berbagai pihak.

Menurut sejumlah laporan, FPI melakukan razia sejumlah kafe yang dianggap telah digunakan sebagai tempat berdua-duaan di kawasan Pantai Wisata Seunangan, Kecamatan Kuala Pesisir, Sabtu 22 Desember sore.

Dalam aksi tersebut mereka memotong ujung celana tiga remaja karena dinilai tidak Islami dan juga memaksa sejumlah laki-laki menundukkan kepala ke tanah. Di Aceh, penerapan hukum syariat seharusnya dilakukan oleh polisi syariah atau Wilayatul Hisbah.

Baca JugaPSI Instruksikan Kader Muslim Ucapkan Selamat Natal

Sejumlah warga di Kabupaten Nagan Raya mengaku tidak suka dengan aksi FPI yang sewenang-wenang itu. Seorang warga Nagan Raya, Susi Riyanti mengatakan, tindakan yang dilakukan oleh anggota FPI kurang beradab.

“Kejadian ini tidak beradab, masih banyak cara lain untuk menasehati, jangan dengan cara-cara yang tidak beretika yang terjadi, semua orang juga punya salah,” kata Susi kepada wartawan di Aceh, yang melaporkan untuk BBC News Indonesia, Senin 24 Desember 2018.

Hal senada juga dikatakan oleh Samsul Bahri, menurutnya tindakan yang dilakukan oleh FPI di daerahnya terlalu kasar, padahal biasanya Satpol PP & Wilayatuh Hisbah hanya memberikan arahan dan teguran.

“Kejadian kemarin terlalu kasar, padahal itu tugas Satpol PP dan Wilayatuh Hisbah, mereka saja cuma ngasih arahan kalau ada yang melanggar syariat,” tegas Samsul Bahri, warga Nagan Raya.

Di media sosial, sejumlah pengguna juga mempertanyakan kewenangan FPI untuk melakukan razia. “Tidak ada wewenangnya, salah kaprah,” kata Ruslan di Facebook.

Lainnya menyoroti pengguntingan celana. “Kok aneh ya, Syariat Islam kok (yang) memotong celana cewek, (adalah) laki-laki. Mana boleh itu, bukan muhrim.”

Bupati Nagan Raya, mengaku baru mengetahui kejadian tersebut saat wartawan meminta konfirmasi. “Saya sedang di Jakarta dalam beberapa hari ini, justru ini baru tahu kalau ada tindakan seperti itu,” kata Bupati Nagan Raya, Jamin Idham.

Jamin Idham, mengatakan dirinya sudah mengubungi setda dan humas di pemerintahannya, dan meminta pimpinan FPI untuk menjelaskan tindakan yang telah dilakukan.

Baca JugaEggi Sudjana Polisikan Kapitra Ampera soal Ancaman Pembunuhan

“Saya tidak pernah menginstruksikan apapun, justru terkejut kalau seperti ini, sejauh ini kami baru mengeluarkan imbauan perayaan tahun baru agar masyarakat tidak beruforia,” tegas Jamin Idham.

Sementara itu, Ketua FPI Nagan Raya, Neldi Isnayanto, mengatakan pihaknya sudah menegur secara keras tindakan yang dilakukan oleh para laskar.

“Ada tujuh orang laskar, sudah kita panggil dan kami menegur mereka terhadap apa yang sudah mereka lakukan kepada remaja,” jelas Neldi Isnayanto.

Neldi melanjutkan, FPI komitmen melakukan sosialisasi terhadap pelaksanaan syariat islam, agar diwilayah ini jauh dari maksiat. Terkait kejadian ini, ia meminta maaf kepada seluruh pihak.

“Saya pastikan ini tidak akan terjadi lagi, kami minta maaf, mohon jangan dibesar-besarkan lagi,” jelas Neldi Isnayanto, Ketua FPI Nagan Raya.

Loading...