Jurnal Indonesia — Perusahaan layanan keuangan global menghadapi dilema: dorongan kuat untuk mengadopsi kecerdasan buatan (AI) bertabrakan dengan keterbatasan internal yang nyata. Meski minat dan investasi tinggi, banyak lembaga belum mampu memperluas pemanfaatan AI secara aman dan terukur.
Pemicu utama kegagalan skala bukan semata keterbatasan model AI, melainkan masalah operasional, tata kelola, dan infrastruktur yang belum siap menampung beban kerja baru. Temuan ini tercantum dalam laporan indeks tahunan Financial Sector Enterprise Cloud Index (ECI) yang dirilis oleh Nutanix.
Shadow AI Menjadi Risiko Besar
Kekosongan alat resmi sering mendorong karyawan menggunakan layanan AI tanpa izin perusahaan, fenomena yang dikenal sebagai Shadow AI. Dalam laporan tersebut, 66% eksekutif TI melaporkan adanya penggunaan layanan AI tidak berizin oleh karyawan.
Selain prevalensinya tinggi, mayoritas juga menilai praktik ini membahayakan operasi dan keamanan. Sekitar 86% responden menyatakan penggunaan AI di luar kendali perusahaan menimbulkan risiko bisnis dan keamanan yang signifikan.
Birokrasi Jadi Penghambat Skala
Hambatan penerapan AI tidak hanya soal teknologi. Birokrasi internal, kompleksitas proses, dan kendala organisasi disebut lebih menghambat upaya meningkatkan skala dibanding keterbatasan teknis semata.
Ketika organisasi berusaha memindahkan inisiatif AI dari pilot ke produksi, kendala administratif dan tata kelola seringkali memperlambat atau menghentikan rencana ekspansi.
Infrastruktur Belum Memadai, Muncul Utang Kedaulatan Data
Infrastruktur on-premises banyak dianggap belum siap menahan beban kerja AI. Sebanyak 68% eksekutif mengakui ketidakmampuan infrastruktur internal mereka untuk menangani tuntutan AI.
Sebagai solusi sementara, 64% perusahaan mengandalkan penyedia pihak ketiga untuk menjembatani kekurangan kapasitas. Pola ini menimbulkan masalah baru yang disebut “sovereignty debt” atau utang kedaulatan data.
Menurut laporan, 79% organisasi menempatkan kedaulatan data sebagai prioritas utama mengingat banyaknya data sensitif yang dikelola. Ironisnya, 62% dari mereka masih menjalankan beban kerja berbasis kontainer di public cloud, menciptakan ketidakselarasan antara kebutuhan kedaulatan data dan praktik operasional.
AI Memacu Modernisasi Teknologi
Meski menghadapi kendala, AI juga menjadi pendorong modernisasi infrastruktur. Sebanyak 90% responden menyatakan AI mendorong adopsi kontainerisasi, dan 89% yakin tren ini akan terus meningkat.
Dalam konteks persaingan, pemenangnya bukan sekadar yang memiliki model AI tercanggih atau anggaran komputasi terbesar, melainkan institusi yang mampu menyelaraskan infrastruktur, tata kelola, dan kepatuhan regulasi secara terpadu.
“Di seluruh wilayah Asia Pasifik dan Jepang (APJ), persaingan kini bukan lagi sekadar tentang siapa yang memiliki model AI paling canggih, melainkan tentang siapa yang mampu meningkatkan skala penerapannya secara aman dan bertanggung jawab,”
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Jay Tuseth, Vice President & General Manager APJ di Nutanix, yang menekankan pentingnya penyelarasan infrastruktur dengan tuntutan regulasi regional dan kedaulatan data melalui platform kontainer yang fleksibel.
Metodologi Survei
Riset ECI kedelapan ini dilakukan pada November 2025 oleh Wakefield Research. Survei melibatkan 1.600 eksekutif bidang cloud, TI, dan engineering dari perusahaan dengan minimal 500 karyawan di 14 negara, termasuk Singapura, Inggris, dan Amerika Serikat.
Ikuti Jurnal Indonesia
