Judo, Sport

Asian Para Games 2018, Judoka Miftah Pilih Didiskualifikasi daripada Lepas Hijab Saat Tanding

Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah
Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah meninggalkan arena (Foto: Antara)

Jurnalindonesia.co.id – Judoka Indonesia, Miftahul Jannah, batal bertanding di Asian Para Games 2018. Atlet asal Aceh ini didiskualifikasi wasit lantaran menolak untuk melepas hijab saat masuk matras.

Miftahul dijadwalkan bertanding di JIEXPO Kemayoran, pukul 10.18 WIB di nomor -52 kg kategori low vision. Miftahul akan menghadapi judoka asal Mongolia, Oyun Gantulga.

Sebelum memasuki gelanggang berupa matras, Miftahul, yang turun di blind judo, diminta untuk melepas hijab. Namun dia menolak. Wasit kemudian memutuskan untuk mendiskualifikasi perempuan tunanetra kelahiran 21 tahun itu.

Penanggung jawab pertandingan judo Asian Para Games 2018, Ahmad Bahar, mengatakan bahwa memang ada aturan yang melarang atlet mengenakan hijab saat bertanding.

“Permasalahan itu karena aturan. Aturan di judo itu atlet tidak diperkenankan memakai hijab pada saat masuk matras,” kata Bahar.

“Hanya masuk matras saja,” imbuhnya.

“Tapi, karena atlet ini tidak mau melepas dan memang sudah prinsip, mau bagaimana lagi. Itu juga sudah peraturan,” ujar Bahar.

Bahar sendiri mengetahui adanya aturan itu saat technical meeting yang berlangsung Minggu (7/10/2018) sore. Sesaat aturan dibacakan kemudian informasi soal aturan baru itu pun langsung disebarkan secara berantai kepada seluruh atlet, termasuk atlet Indonesia.

“Itu peraturan baru. Saya kurang tahu barunya tahun berapa. Tapi untuk ASEAN Para Games itu judo belum dipertandingkan. Sementara Asian Para Games 2014 saya kurang paham,” lanjutnya.

Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah

Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah meninggalkan arena (Foto: Antara)

Tanggapan DPR

Kejadian itu ditanggapi oleh anggota DPR, Ace Hasan Syadzily. Wakil Ketua Komisi VII itu mengaku menghormati keputusan Miftahul yang tetap memilih mengenakan jilbab.

“Kita hormati keputusan Miftahul Jannah yang lebih memilih keyakinannya menggunakan jillbab. Itu sebuah pilihan dan Miftahul Jannah menerima risiko diskualifikasi,” kata Ace seperti dikutip detikcom, Senin (8/10/2018).

Meski begitu, Ace menyebut setiap cabang olahraga juga memiliki aturan sendiri di Asian Para Games 2018, sehingga perlu dihormati.

“Setiap cabang olahraga memiliki aturannya sendiri. Itupun harus dihormati,” tutur Ace.

Lebih lanjut, ia menilai Miftahul Jannah tetap menjadi atlet kebanggaan Indonesia meski didiskualifikasi. Menurut dia, seharusnya wasit judo Asian Games mempertimbangkan Miftahul yang memilih memakai jilbab.

“Miftahul Jannah tetap atlet sejati dan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Dia lebih memilih keyakinannya walaupun harus didiskualifikasi. Mungkin sebaiknya wasit mempertimbangkan keyakinannya Miftahul Jannah yang tetap ingin menggunakan hijab seperti halnya cabang olahraga lainnya,” ucap Politikus Golkar ini.

Loading...
Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah

Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah meninggalkan arena (Foto: Antara)

Tanggapan PBNU

Respons juga datang dari Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Ormas Islam terbesar di Indonesia ini berharap nantinya ada busana muslimah yang menyesuaikan atlet.

“Kedepannya harus diupayakan kostum yang adaptif dengan muslimah, tapi sekaligus menjamin keselamatan jiwa atlet,” kata Ketua PBNU Robikin Emhas kepada detikcom, Senin (8/10/2018).

Robikin Emhas menyebutkan aturan itu untuk melindungi keselamatan para atlet di Asian Para Games. Aturan tersebut sudah disepakati oleh stakeholder.

“Keselamatan jiwa atlet ketika berlaga harus dilindingi. Aturan yang berlaku saat ini dimaksudkan untuk melindungi keselamatan jiwa atlet. Aturan ini disepakati oleh seluruh stakeholder di seluruh dunia,” ucap Robikin.

Pujian Wabup Aceh

Keputusan Miftahul Jannah yang lebih memilih tidak bertanding daripada harus melepas hijab menuai pujian dari sejumlah pihak, salah satunya dari Wakil Bupati Aceh Barat Daya, Muslizar.

“Sikap yang diambil Miftah sudah sangat tepat. Jangan hanya karena untuk mengejar prestasi lalu menghilangkan jati diri,” kata Muslizar, dikutip dari detikcom, Senin (8/10/2018).

“Sikapnya membuat kami bangga. Ini melebihi ratusan, bahkan ribuan, medali emas yang hendak dia persembahkan buat daerah, bahkan negara Indonesia,” ujar Muslizar.

Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah

Pejudo putri Indonesia Miftahul Jannah. (Foto: Istimewa)

Sementara Wakil Ketua KONI Aceh Barat Daya (Abdya) Alamsyah mengatakan dirinya kecewa terhadap tim ofisial Indonesia karena telat memberi tahu soal hasil meeting yang diikuti. Soalnya, dalam pertandingan, atlet perempuan dilarang mengenakan hijab.

“Miftah bilang dia sudah berjanji kepada Allah untuk tidak membuka hijabnya. Dia lebih baik mengundurkan diri daripada harus buka hijab,” kata Alamsyah, yang mendampingi Miftah dalam pertandingan tersebut.

“Hasil technical meeting yang diikuti oleh tim ofisial Indonesia baru diberi tahu pada sore kemarin. Namun yang disesali kenapa seorang pelatih dan ofisial tidak memberitahukan lebih awal,” jelasnya.

Miftah sendiri sudah menjalani latihan sejak 10 bulan lalu demi bisa bertanding di ajang olahraga difabel negara-negara se-Asia ini. Mimpinya mengharumkan nama Indonesia dengan perolehan medali pupus karena aturan hijab.

Alamsyah menuturkan, Miftah merasa sedih atas putusan tersebut. Kekecewaannya membuat Miftah mengaku ini terakhir kalinya ia mengikuti cabang judo.

“Dia (Miftah) menyampaikan, ini merupakan yang terakhir untuk ikut cabang judo karena ini mengorbankan hak privasi seseorang,” ujar Alamsyah.

Loading...

Tulis pendapat anda