— Jakarta — Lelang pita frekuensi 700 MHz dan 2,6 GHz disebut menjadi titik balik untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas layanan internet seluler di Indonesia. Tambahan spektrum ini diharapkan memperkuat jaringan 4G sekaligus mempercepat implementasi 5G.

Direktur Eksekutif Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) Marwan O. Baasir mengatakan tambahan spektrum akan memperbesar kapasitas operator sehingga layanan internet dapat membaik secara signifikan.

“Insya Allah pasti. Frekuensi 700 MHz bisa menjawab kebutuhan 4G Advanced maupun 5G. Di sejumlah negara juga sudah digunakan untuk layanan 5G. Sementara pita 2,6 GHz akan menjadi fondasi untuk memperkuat implementasi 5G,” kata Marwan.

Spektrum Tambahan Capai 260 MHz

Marwan merinci bahwa hasil lelang akan menambah sekitar 260 MHz spektrum komersial, terdiri dari pita 700 MHz seluas 70 MHz dan pita 2,6 GHz sebesar 190 MHz. Dengan tambahan itu, total spektrum komersial Indonesia diperkirakan meningkat dari sekitar 452 MHz menjadi sekitar 712 MHz.

Menurut Marwan, peningkatan kapasitas tersebut merupakan lompatan besar bagi industri telekomunikasi nasional dan berpotensi meningkatkan kualitas layanan internet seluler.

“Komersialisasi spektrum kita meningkat cukup besar. Harapan saya ini akan meningkatkan kecepatan internet mobile dan mengangkat posisi Indonesia di kawasan regional,” ujarnya.

Hambatan Implementasi 5G Saat Ini

Marwan menjelaskan bahwa pengembangan layanan 5G di Indonesia selama ini belum optimal karena keterbatasan spektrum. Spektrum yang tersedia saat ini masih digunakan secara berbagi dengan layanan 4G, sehingga implementasi 5G mayoritas mengadopsi arsitektur non-standalone (NSA).

“Dengan spektrum sekarang memang masih sharing. Makanya operator menggunakan non-standalone. Kalau standalone, harus menggunakan spektrum yang benar-benar khusus untuk 5G,” kata Marwan.

Kebutuhan Spektrum Ke Depan

Selain menambah ruang untuk mobile broadband, Marwan menekankan kebutuhan spektrum akan terus meningkat seiring bertambahnya pengguna internet dan tingginya konsumsi data masyarakat. Ia mengingatkan agar penilaian kualitas internet nasional tidak menggabungkan semua jenis layanan akses internet menjadi satu indikator tunggal.

“Pengguna internet kita sangat beragam. Ada yang menggunakan layanan dasar dengan kecepatan 5 sampai 10 Mbps karena faktor keterjangkauan harga, ada juga pelanggan FTTH dengan kecepatan jauh lebih tinggi. Kalau semuanya digabung menjadi satu ukuran kecepatan internet nasional, hasilnya menjadi tidak fair,” jelasnya.

Lebih lanjut, ATSI berharap pemerintah segera menyediakan pita frekuensi 3,5 GHz untuk mempercepat pengembangan 5G standalone di Indonesia.

“Ke depan tentu kita juga membutuhkan spektrum 3,5 GHz sekitar 200 sampai 250 MHz agar pengembangan 5G bisa semakin optimal,” pungkas Marwan.

Simak Video “Video: Daftar Pemenang Apresiasi Konektivitas Digital Kategori Puskesmas, Sekolah, Pos TNI”