Jurnal Indonesia — Jakarta — Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) menegaskan layanan satelit seperti Starlink bukan kompetitor, melainkan pelengkap upaya memperluas konektivitas di Indonesia.
Pernyataan itu disampaikan menyusul maraknya penggunaan Starlink di beberapa area perbatasan, termasuk Pulau Maratua, Kabupaten Berau, yang di sisi lain juga mendapatkan layanan dari Bakti.
Peran Berbeda Antara Bakti dan Penyedia Komersial
Direktur Utama Bakti, Fadhilah Mathar, mengatakan pemerintah memiliki keterbatasan kapasitas dan anggaran untuk membangun infrastruktur telekomunikasi secara menyeluruh. Karena itu, keterlibatan penyedia layanan komersial dinilai membantu mempercepat pemerataan akses.
“Kalau Starlink itu bukan saingan, kalau kami memandang semua penyedia mau Starlink atau yang lain adalah solusi untuk membantu kapasitas Bakti atau pemerintah yang memang tidak banyak kan sebenarnya kapasitasnya,” ujar Fadhilah saat kunjungan ke Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, Jumat (12/6).
Fadhilah menekankan mandat Bakti berbeda dengan operator komersial. Lembaga ini tidak membangun jaringan untuk permukiman atau pelanggan rumah tangga, melainkan berfokus pada fasilitas publik yang menjadi pusat pelayanan masyarakat.
Fokus Layanan Publik dan Efisiensi Subsidi
Menurut Fadhilah, fokus Bakti adalah menjangkau lokasi-lokasi publik di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), seperti sekolah, puskesmas, kantor desa, pos TNI, UMKM, dan rumah ibadah.
“Makanya Bakti tidak membangun di wilayah-wilayah residensial perumahan,” kata Fadhilah. “Kita di lokasi-lokasi layanan publik, sekolah, puskesmas, kantor desa, pos-pos TNI, UMKM, rumah-rumah ibadah. Tapi untuk perumahan kita tidak bangun dan itu pasarnya Starlink dan kita juga sangat terbantu.”
Ia menambahkan, jika masyarakat mampu mengakses layanan secara komersial, alokasi subsidi pemerintah bisa difokuskan pada wilayah dan kelompok yang benar-benar belum terlayani. Hal ini dianggap dapat meningkatkan kemandirian pengguna dan efektivitas penggunaan anggaran publik.
Fadhilah juga menegaskan peran pemerintah tetap penting untuk memastikan layanan tersedia di lokasi yang tidak menarik bagi penyedia komersial, sementara kehadiran pemain seperti Starlink memberi pilihan tambahan bagi masyarakat dalam memperoleh akses internet.
Ikuti Jurnal Indonesia
