Mancanegara

Bangun Kota Hiburan Seluas Las Vegas, Arab Saudi Gelontorkan Rp874,9 Triliun

Festival jazz pertama digelar di Riyadh, Arab Saudi pada 23 Februari 2018 lalu.
Festival jazz pertama digelar di Riyadh, Arab Saudi pada 23 Februari 2018 lalu. (Foto: REUTERS/Faisal Al Nasser)

Jurnalindonesia.co.id – Pemerintah Arab Saudi mempersiapkan dan sebesar USD64 miliar (Rp874,9 triliun) untuk mengembangkan sektor hiburan guna mewujudkan Visi 2030.

Dana sebesar itu digelontorkan di antaranya untuk membangun kompleks hiburan, operasi, serta menggelar berbagai macam acara. Kebijakan tersebut diambil Pemerintah Arab Saudi untuk membantu menopang ekonomi negara.

Salah satu proyek hiburan ambisius yang sedang digarap berupa kompleks hiburan seluas 334 kilometer persegi yang bertempat di kawasan dekat Riyadh. Kompleks yang mempunyai luasnya lima kali lipat Kota Riyadh atau kira-kira seluas Las Vegas, Amerika Serikat itu dirancang untuk menampung berbagai atraksi budaya, olahraga, musik, taman safari, dan sebagainya.

Penggarapan konstruksi bangunan kompleks tersebut dimulai awal tahun ini dan diharapkan selesai pada 2022.

Dikutip BBC.com, dalam konferensi pers yang megah di Riyadh, Kamis (22/02), Kepala Otoritas Hiburan Umum, Ahmad bin Aqeel al-Khatib, menjelaskan kepada para wartawan rencana investasi US$64 miliar atau Rp875 triliun untuk sektor hiburan dalam satu dekade mendatang.

“Kami sudah membangun prasarana,” kata Khatib seraya menambahkan bahwa peresmian pembangunan sebuah gedung pertunjukan sudah dilakukan.

Ahmed bin Aqeel al-Khatib menuturkan, pada zaman dulu investor sering berpaling dan memilih menanamkan modal di luar Arab Saudi sebelum mengemas dan menjualnya di Arab Saudi.

Insya Allah, Anda akan melihat perubahan nyata pada tahun 2020.”

Visi 2030 yang diharapkan bisa menopang masa depan ekonomi Arab Saudi sebagai solusi mereformasi pendapatan dari sektor minyak memang berimplikasi pada liberalisasi negara tersebut. Arab Saudi pun membuka berbagai kegiatan yang sebelumnya dilarang seperti hiburan musik. Lembaga Hiburan Publik Arab Saudi menyatakan pada tahun ini saja sedikitnya akan diadakan sekitar 5.000 event, termasuk konser musik band Maroon 5 dan Cirque du Soleil.

Pada Desember 2017 Pemerintah Arab Saudi mencabut larangan bioskop. Selain itu, untuk pertama kali kaum perempuan juga diperbolehkan menonton pertandingan sepak bola dan berkendara tanpa ditemani mahram. Pangeran Mohammed Bin Salman berambisi mengubah Arab Saudi menjadi negara Islam yang moderat dan terbuka.

“Kami ingin negara ini terbuka bagi semua agama, tradisi, dan masyarakat,” tandas Pangeran Mohammed selama konferensi ekonomi di Riyadh pada akhir Oktober 2017. Sebanyak 70% penduduk Arab Saudi yang berusia di bawah 30 tahun menginginkan kehidupan bertoleransi. Dia juga berjanji memberantas ekstremis.

Pangeran Mohammed meyakini ambisi Visi 2030-nya akan tercapai. Visi itu mengungkapkan tujuan jangka panjang, ekspektasi, dan mencerminkan kekuatan dan kapabilitas Arab Saudi.

“Kami juga yakin Allah Yang Mahabesar tidak hanya menganugerahi negeri kami dengan hasil minyak bumi,” ujar dia sebagaimana dinyatakan di laman vision2030.gov.sa.

Untuk menunjang sektor hiburan dan pariwisata, Pemerintah Arab Saudi juga menanamkan modal sebesar USD22 miliar (Rp300,7 triliun) dalam sistem transportasi metro enam rel di Riyadh.

Proyek itu menjadi proyek transportasi terbesar di dunia. Konstruksinya dimulai pada 2014 dan direncanakan selesai pada 2019.

Presiden Lembaga Pengembangan Arriyadh (ADA) Ibrahim bin Mohammed al Sultan mengatakan, proyek transportasi publik itu akan meningkatkan kualitas hidup dan ekonomi di Riyadh.

Jim Krane dari Universitas Cambridge menilai langkah Arab Saudi sudah tepat sebab Riyadh merupakan kota global seperti Brussels.

“Pemerintah Arab Saudi sudah sejak lama memandang Riyadh sebagai kandidat ibu kota negara-negara Teluk. Atas hal itu, tidak heran jika Arab Saudi memodernisasi fasilitas di kota tersebut,” ujar Krane. “Arab Saudi juga menyimpan banyak uang tunai. Investasi di bidang apa sich yang lebih baik dibanding infrastruktur?” lanjutnya.

Pengeluaran besar tersebut merupakan bagian dari program reformasi sosial dan ekonomi besutan Pangeran Mahkota Mohammed bin Salman. Pria berusia 32 tahun itu ingin mendiversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan terhadap bisnis minyak salah satunya melalui bisnis pariwisata, budaya, dan hiburan.

Loading...

Berita lainnya