Kriminal

Garda 212: Kerusuhan di Mako Brimob dan Bom di Surabaya Cuma Pengalihan Isu

Ansufri Idrus Sambo
Ansufri Idrus Sambo. (Foto: istimewa)

Jurnalindonesia.co.id – Ketua Garda 212, Ansufri Idrus Sambo, menduga rentetan aksi terorisme yang terjadi beberapa hari kemarin adalah bagian dari pengalihan isu atas maraknya gerakan #2019GantiPresiden — gerakan yang menginginkan digantinya presiden Joko Widodo (Jokowi) pada pilpres 2019 mendatang.

Mantan aktivis Aksi Bela Islam 212 itu berpendapat, para teroris tak bisa disalahkan dalam peristiwa aksi kerusuhan maupun bom bunuh diri dalam beberapa hari terakhir. Pasalnya, menurut dia, sampai saat ini tidak jelas siapa yang dimaksud dengan teroris itu sendiri.

“Diarahkan kepada siapa kalimat teroris itu? Ini saya kira pedang bermata dua. Satu sisi untuk menghantam umat Islam, satu sisi untuk pengalihan isu ‘2019 Ganti Presiden’,” kata Sambo dalam dialog kebangsaan #2019GantiPresiden di Hotel Sofyan, Tebet, Jakarta Selatan, Senin (14/5/ 2018), dikutip Suara.com.

Oleh karena itulah, pengalihan isu dengan berbagai cara dilakukan. Termasuk dengan isu terorisme.

“Saya yakin peristiwa-peristiwa yang belakangan terjadi, apakah di Mako Brimob, apakah yang kemarin di Surabaya, ini saya curiga adalah pengalihan-pengalihan isu saja,” ujar dia.

Baca: Mantan Teroris Ini Merasa Miris Kerusuhan Mako Brimob Dianggap Pengalihan Isu

Dialog kebangsaan 2019 Presiden Harapan Rakyat

Dialog kebangsaan 2019 Presiden Harapan Rakyat di Hotel Sofyan Tebet, Jakarta Selatan, Senin (14/5). (Foto: Akurat.co/Bayu Primanda)

“Kenapa pengalihan isu? Saya katakan karena gelombang tagar 2019 ganti presiden itu gelombangnya sudah begitu besar, sehingga yang katanya tadi tidak takut, ternyata takut juga. Buktinya car free day dilarang tuh,” lanjut Sambo.

Dia menilai, Polri kerap tidak transparan dalam mengungkap siapa pelaku terorisme sebenarnya. Bahkan, kata dia, Polri terkesan menutup-nutupi penuntasan kasus terorisme yang ditangani.

Sambo pun menyinggung soal peristiwa kericuhan yang terjadi di Mako Brimob pada Selasa (8/5/2018) malam hingga Rabu (9/5/2018). Sambo mempertanyakan, dari 150 lebih narapidana teroris di Mako Brimob, tak ada satupun nama-nama mereka yang terkespos media.

“Tidak boleh kita salahkan teroris, memang ada andil mereka, pertanyaannya tidak pernah terungkap siapa itu teroris. Diarahkan kepada siapa kalimat teroris itu, ini saya kira pedang bermata dua. Satu sisi untuk menghantam umat Islam, satu sisi untuk pengalihan isu,” ujarnya.

Baca: Dituduh Dukung Terorisme, Gerindra Polisikan 11 Akun Ini

Sebagaimana diketahui, selama satu minggu terakhir masyarakat Indonesia dikejutkan oleh serangan teror. Dari kerusuhan di Rutan Mako Brimob yang menewaskan lima polisi, hingga bom bunuh diri tiga keluarga di Surabaya, Jawa Timur.

Pada Selasa, 8 Mei hingga Senin 14 Mei 2018 menjadi pekan yang penuh teror. Narapidana terorisme (napiter) mengambil alih Rutan Mako Brimob, Depok. Sementara di Surabaya, untuk pertama kalinya di Indonesia, bom bunuh diri dilakukan sekeluarga inti, ayah, ibu yang membawa serta anak-anak mereka.

Baca juga: Ibu Kepsek yang Diduga Sebar Hoaks Terkait Bom Surabaya Dibidik Pasal Berlapis

Loading...

Berita lainnya