Mancanegara

Buntut Skandal Data Facebook, Cambridge Analytica Nyatakan Diri Bangkrut

Cambridge Analytica
Cambridge Analytica. (Foto: Getty)

Jurnalindonesia.co.id – Cambridge Analytica, menyatakan diri bangkrut. Perusahaan yang mendapat sorotan dunia karena dugaan skandal data privasi Facebook itu tutup setelah menjadi bahan olok-olok.

Cambridge Analytica menyatakan, mereka menjadi bahan ‘olok-olok’ dan dipersalahkan, padahal apa yang mereka lakukan adalah hal yang tidak melanggar hukum dan sudah merupakan kebiasaan yang dilakukan di dunia periklanan.

Yang terjadi adalah Cambridge Analytica mencari informasi dari Facebook untuk membuat profil psikologis para pemilih di Amerika Serikat, dan perusahaan tersebut disewa oleh tim kampanye Presiden Donald Trump di tahun 2016.

Perusahaan ini mampu mengumpilkan data dengan cepat dalam jumlah besar, menggunakan app yang berbentuk tes kepribadian.

App itu berhasil mengumpulkan data dari 87 juta akun Facebook, bahkan dari mereka yang tidak mengunduh app itu sendiri.

Cambridge Analytica mengatakan, akibat dari pemberitaan buruk terhadap mereka, membuat perusahaan itu kehilangan pelanggan dan pemasok, sehingga terpaksa harus berhenti beroperasi.

“Pemberitaan media telah membuat semua pelanggan dan pemasok kami lari,” kata Cambridge Analytica dalam pernyataan, sebagaimana dilansir Abc.net.au. “Sebagai akibatnya, kami tidak bisa lagi berfungsi baik sebagai sebuah bisnis.”

Baca juga: Begini Cara Konsultan Politik Trump Manfaatkan 50 Juta Data Facebook

Menurut laporan harian Amerika Serikat The New York Times, Cambridge Analytica didirikan di tahun 2013, dengan fokus pemilihan presiden di Amerika Serikat, dengan dana $20 juta (sekitar Rp 40 miliar) dari donor besar Partai Republik Robert Mercer.

Nama Cambridge Analytica dipilih oleh Steve Bannon yang kemudian pernah bekerja sebagai penasehat Gedung Putih ketika Donald Trump menjadi presiden.

Mereka menyediakan data konsumen, iklan dan layanan data lainnya bagi klien perusahaan maupun untuk kegiatan politik.

Perusahaan itu sudah membantah melakukan hal yang tidak legal dan tim kampanye Trump juga mengatakan mereka tidak pernah menggunakan data dari Cambridge.

Setelah terbongkarnya skandal tersebut, Facebook sekarang memperketat aturan mengenai pengunmpulan data.

Baca juga: Kominfo Layangkan SP II ke Facebook Indonesia

Loading...

Berita lainnya