Jurnal Indonesia — MARATUA — Pembangunan jaringan telekomunikasi di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) menghadirkan tantangan teknis dan biaya yang berbeda dibandingkan kawasan perkotaan. Selain mendirikan menara BTS, kebutuhan koneksi belakang atau backhaul menjadi penentu kinerja layanan.
Pelaksana Tugas Direktur Infrastruktur Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informasi (Bakti) Komdigi, Darien Aldiano, mengatakan sebagian besar BTS di wilayah 3T masih mengandalkan konektivitas satelit karena belum tersedia jaringan serat optik atau jalur microwave.
“BTS itu tidak serta-merta dibangun tower, kemudian kencang. Dari tower itu harus punya dapurnya gitu. Koneksi di belakang, backhaul-nya. Jadi kalau nggak ada di daerah tersebut, mau nggak mau pakai VSAT. Nah kalau pakai VSAT ini jadinya mahal dan terbatas,” ujar Darien di Pulau Maratua, Kamis (11/6/2026).
Biaya Operasional Lebih Tinggi
Menurut Darien, perbedaan biaya operasional antara BTS di daerah 3T dan kota cukup signifikan. Di daerah terpencil, dukungan operasional sebuah site BTS bisa menembus angka sekitar Rp30 juta per bulan.
“Contoh mudahnya untuk di daerah 3T itu, cost untuk support BTS itu bisa sampai 30-an juta satu site, 30 juta per bulan. Namun, kalau di kota BTS-BTS yang milik operator seluler itu ya, cost-nya mereka mungkin hanya 15-20 juta,” katanya.
Perbedaan ini terjadi karena BTS perkotaan umumnya menggunakan jaringan serat optik yang menyediakan kapasitas besar dengan biaya operasional lebih rendah, serta melayani jumlah pelanggan yang lebih banyak sehingga operator menikmati skala ekonomi.
Keterbatasan Kapasitas VSAT
Darien menyoroti keterbatasan kapasitas pada BTS yang mengandalkan VSAT (Very Small Aperture Terminal). Ketika jalur transmisi bergantung pada satelit, kapasitas bandwidth menjadi terbatas dibandingkan jaringan optik.
“Rata-rata memang kapasitas BTS yang menggunakan VSAT itu mungkin di saat ini dipakai maksimum di 12 Mbps. Nah jadi Bapak Ibu bayangkan dengan 12 Mbps, mungkin satu orang dengan aplikasi yang kekinian, TikTok, Youtube itu mungkin satu orang itu aja bisa 1 Mbps, dia sendiri. Nah bagaimana caranya BTS VSAT dengan pengguna let say 100 berbarengan, terus semuanya misalnya buka TikTok dan lain-lain, maka pasti lemot,” jelasnya.
Karena keterbatasan tersebut, kualitas layanan di wilayah 3T tidak dapat dibandingkan langsung dengan layanan di daerah perkotaan. Darien berharap masyarakat memahami perbedaan karakteristik BTS antar wilayah.
Peran Negara Dalam Pemerataan Akses
Meski menghadapi kendala teknis dan biaya, Darien menegaskan negara tetap harus hadir untuk memastikan akses telekomunikasi yang layak bagi masyarakat di daerah 3T.
“Jadi memang secara bisnis ini belum masuk ke tataran komersil, di situlah Bakti hadir, negara hadir untuk memberikan layanan kepada masyarakat. Jadi memang harus ada pihak yang bisa memberikan layanan kepada masyarakat di daerah 3T,” katanya.
Keberadaan BTS yang dibangun oleh Bakti menjadi salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi kesenjangan konektivitas antara kawasan perkotaan dan daerah terpencil di seluruh Indonesia.
Ikuti Jurnal Indonesia
