Jurnal Indonesia — Jakarta — Kolaborasi antara kecerdasan buatan (AI) dan teknologi seluler dinilai dapat menjadi kunci bagi peningkatan kreativitas anak muda. Pandangan ini disampaikan praktisi dan social entrepreneur Donny Budhi Utoyo.
Menurut Donny, AI berpotensi mempercepat proses pencarian informasi, perumusan ide, penulisan, hingga penyelesaian tugas berbasis pengetahuan. Namun ia juga memberikan peringatan terkait cara penggunaan teknologi tersebut.
“Namun, ada catatan penting. Penelitian terbaru juga menunjukkan bahwa penggunaan AI yang terlalu pasif dapat membuat ide menjadi lebih seragam dan berpotensi mengurangi latihan berpikir mandiri. Sederhananya, AI bisa membantu menghasilkan lebih banyak ide, tetapi belum tentu membuat ide kita semakin beragam,” ujar Donny.
Donny memposisikan AI sebagai alat augmentasi, bukan substitusi. Ia menekankan bahwa AI seharusnya memperkuat kemampuan manusia, bukan menggantikan proses berpikir manusia secara menyeluruh.
Peran Teknologi Seluler
Teknologi seluler, kata Donny, tetap relevan bagi anak muda karena hampir seluruh aktivitas digital mereka berlangsung melalui ponsel. Aktivitas itu mencakup belajar, bekerja, berkomunikasi, berbelanja, menikmati hiburan, hingga membuat konten.
Yang berubah menurutnya bukan relevansi perangkat, melainkan ekspektasi pengguna. Dari kebutuhan sinyal dan kuota murah, kini pengguna mengharapkan pengalaman digital yang lebih personal, cepat, aman, dan terintegrasi dengan AI.
“Karena itu industri telekomunikasi tidak cukup hanya menjual konektivitas. Nilai tambahnya harus semakin jelas dan harus kian memiliki relevansi yang kuat dengan teknologi di satu sisi, dan gaya hidup di sisi lain,” ujarnya.
Empat Fokus Penguatan
Donny merinci empat area yang perlu diperkuat untuk memaksimalkan kolaborasi AI dan seluler. Pertama, integrasi AI ke layanan sehari-hari, seperti pembelajaran, produktivitas, pencarian informasi, penerjemahan, pembuatan konten, dan pengembangan keterampilan digital langsung dari ponsel.
Kedua, dukungan terhadap ekonomi kreator. Anak muda kini tak sekadar konsumen, melainkan juga kreator konten, pelaku UMKM, pengembang aplikasi, dan pelaku ekonomi digital yang membutuhkan ekosistem pendukung.
“Ketiga, keamanan dan kesejahteraan digital. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan melalui perangkat seluler, semakin penting pula perlindungan data pribadi, keamanan digital, dan kesehatan mental pengguna,” tuturnya.
Keempat, pengembangan komunitas dan talenta digital agar anak muda memiliki ruang untuk belajar, berkolaborasi, dan membangun jejaring.
Contoh Kolaborasi Industri
Donny menyebut kolaborasi industri sebagai langkah nyata menjawab kebutuhan generasi muda yang cepat mengadopsi teknologi baru. Ia mengutip kerja sama antara penyedia layanan seluler dan platform AI sebagai salah satu contoh integrasi tersebut.
Dalam contoh yang disebutkan, kolaborasi membuat akses ke fitur AI lebih mudah melalui perangkat seluler, didukung oleh konektivitas 5G. Penawaran itu mencakup kemampuan mencari ide, merancang konten visual, dan membuat rencana perjalanan yang lebih personal.
Donny menegaskan tujuan akhir kolaborasi bukan membuat ketergantungan pada AI, melainkan memberdayakan pengguna. Ia memprediksi AI akan terus menyasar dunia pendidikan untuk menghadirkan pengalaman belajar yang lebih personal dan interaktif.
“Integrasi AI ke perangkat seluler yang membuat AI hadir dalam aktivitas sehari-hari, mulai dari mencari informasi hingga membantu produktivitas. Pemanfaatan AI dalam berbagai aplikasi kreatif yang membantu anak muda membuat konten, melakukan riset, dan mengembangkan ide lebih cepat,” kata Donny.
Ia menutup dengan mengingatkan bahwa kecepatan yang ditawarkan AI harus dipadukan dengan kemampuan manusia untuk berpikir kritis, memahami konteks, dan berempati. “Maka cepat tidak lagi cukup, mesti juga tepat. AI dapat membantu kita mengetahui apa yang mungkin dilakukan. Tetapi manusia tetap harus memutuskan apa yang seharusnya dilakukan dengan tepat,” tutupnya.
Ikuti Jurnal Indonesia
