— Erupsi Gunung Anak Krakatau menjadi ujian bagi ketahanan rantai dingin (cold chain) nasional. Gangguan distribusi akibat bencana berpotensi semakin berat di tengah masih terbatasnya kesiapan infrastruktur cold storage dan pasokan energi, terutama di wilayah terpencil.

Board of Government American Society of Heating, Refrigerating and Air-Conditioning Engineers (ASHRAE) Indonesia Yongkie Tilano mengatakan, rantai dingin merupakan salah satu aspek penting dalam menjaga kelancaran distribusi berbagai komoditas, khususnya di daerah yang memiliki keterbatasan akses dan infrastruktur.

“Memang rantai dingin ini menjadi isu yang sangat penting karena banyak sekali daerah-daerah yang masuk ke kendala dengan jalur daripada rantai dingin,” ujar Yongkie dalam acara Konferensi Pers RHVAC Indonesia 2026 di NICE, PIK 2, Tangerang, Rabu (9/9/2026).

Yongkie mengatakan persoalan tersebut terutama terlihat di daerah-daerah terpencil (remote area). Di wilayah tersebut, sejumlah fasilitas cold storage masih belum memiliki kesiapan yang memadai, khususnya dari aspek energi. Ia juga menjelaskan, cold storage membutuhkan konsumsi daya listrik yang cukup besar untuk menjaga suhu penyimpanan.

Sementara itu, ketersediaan energi di sejumlah daerah terpencil masih menjadi tantangan. “Terutama dari aspek energi, cold storage itu penggunaan daya yang besar. Sedangkan daerah-daerah remote itu kita juga memiliki kendala energi yang besar,” kata Yongkie.

Kondisi tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi pengembangan rantai dingin nasional. Sebab, fasilitas penyimpanan dingin tidak cukup hanya dibangun, tetapi juga harus didukung pasokan energi yang stabil agar dapat beroperasi secara optimal.

Dia menambahkan, terdapat sejumlah fasilitas cold storage yang mulai memanfaatkan sumber energi alternatif, termasuk pembangkit tenaga surya. Namun, kapasitas daya yang tersedia belum selalu mencukupi kebutuhan operasional fasilitas tersebut. Kondisi ini, lanjut Yongkie, terutama menjadi perhatian di wilayah Indonesia Timur.

Kawasan tersebut memiliki aktivitas distribusi hasil perikanan yang membutuhkan dukungan sistem rantai dingin untuk menjaga kualitas produk selama proses penyimpanan dan pengiriman. “Indonesia Timur itu terutama umumnya kita konsentrasikan untuk mendistribusikan hasil-hasil daripada perikanan,” jelas Yongkie.

Menurut dia, tantangan rantai dingin juga tidak berhenti pada fasilitas penyimpanan. Sistem transportasi turut menjadi bagian penting karena sejumlah komoditas, terutama hasil perikanan, membutuhkan kapal atau perahu yang dilengkapi dengan perangkat pendingin.

Hal ini diperlukan karena hasil perikanan memiliki keterbatasan waktu dalam mempertahankan kualitas apabila tidak mendapatkan penanganan dengan suhu yang sesuai. “Perikanan yang memang perlu dilengkapi oleh alat-alat dingin,” kata Yongkie.

Dia menilai pengembangan teknologi cold storage saat ini sebenarnya terus mengalami kemajuan. Namun, berbagai persoalan di lapangan masih perlu diselesaikan, terutama terkait kesiapan energi dan infrastruktur pendukung di daerah-daerah terpencil. Menurut Yongkie, kondisi tersebut menjadi semakin relevan ketika terjadi gangguan terhadap jalur distribusi, termasuk akibat bencana seperti erupsi gunung api. Ketika jalur transportasi terganggu, keberadaan cold storage menjadi penting untuk menjaga komoditas agar tidak langsung mengalami penurunan kualitas.

Dongkrak Permintaan Air Purifier

Berbeda dengan rantai dingin, bencana alam berupa kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia justru mendorong lonjakan permintaan produk penjernih udara atau air purifier.

National Sales Marketing Senior General Manager PT Sharp Electronics Indonesia Andry Adi Utomo mengatakan, peningkatan permintaan tersebut terjadi di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat untuk menjaga kualitas udara akibat dampak kebakaran hutan. “Pertumbuhannya sampai 400% dalam seminggu ini sampai sekarang. Orang Kalimantan bahkan naik pesawat ke Jakarta untuk membeli air purifier,” ujar dia.

Andry menjelaskan, penjualan air purifier Sharp telah mencapai sekitar 6.000 unit dalam kurun waktu dua hingga tiga pekan. Kalimantan menjadi salah satu wilayah dengan permintaan terbesar. Lonjakan permintaan tersebut terjadi di luar perkiraan perusahaan. Sharp sebelumnya tidak memprediksi dampak karhutla tahun ini akan sedemikian besar, sehingga perusahaan sempat menyiapkan stok dalam jumlah tertentu.

“Pasokan sebenarnya tidak ada masalah. Cuma masalahnya kita waktu itu tidak prediksi segitu besar. Karena dampak kebakaran hutan ini kan aneh, sudah berapa tahun tidak ada, tapi kenapa tahun ini tiba-tiba ada,” jelas dia.

Andry menjelaskan, tingginya kebutuhan masyarakat membuat permintaan tidak hanya datang untuk produk air purifier dengan harga terjangkau. Konsumen juga mulai membeli produk dengan harga lebih tinggi karena kebutuhan terhadap kualitas udara dinilai semakin mendesak. “Sekarang yang Rp 3 juta, Rp 4 juta, Rp 5 juta, sampai Rp 6 juta pun sudah dibeli. Karena sudah begitu urgent, berapa pun dibeli,” kata dia.

Selain Kalimantan, permintaan air purifier juga meningkat di Jakarta seiring munculnya persoalan kualitas udara dan debu yang dirasakan masyarakat. Andry memastikan peningkatan permintaan tersebut sejauh ini tidak mengganggu pasokan. Produk air purifier Sharp yang mengalami lonjakan permintaan tersebut masih diimpor dari Thailand.

Dia mengatakan, perusahaan berupaya memenuhi permintaan pasar dengan melakukan pembelian stok yang tersedia. Dalam kondisi tertentu, pengiriman bahkan dilakukan menggunakan pesawat untuk mempercepat ketersediaan produk. “Kalau pasokannya selama kita bisa beli banyak, tidak masalah. Kadang kita kirim pakai pesawat terbang,” ujar Andry.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bencana alam tidak hanya berdampak terhadap aktivitas masyarakat, tetapi juga mulai mengubah pola permintaan terhadap produk yang berkaitan dengan kesehatan dan kualitas udara. Di sisi lain, dia mengaku pihaknya masih mencermati keberlanjutan lonjakan permintaan tersebut. “Kami belum dapat memastikan apakah tren peningkatan penjualan air purifier akan bertahan apabila kondisi kualitas udara kembali normal,” ujar Andry.