Jurnal Indonesia — Gangguan penerbangan akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dalam tiga hari terakhir telah berdampak pada 341.000 penumpang. Penutupan sementara dan pengalihan rute di sejumlah bandara, termasuk Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta), menjadi penyebab utama lonjakan angka tersebut.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), merinci bahwa total 2.961 penerbangan terdampak. Angka ini mencakup 2.339 penerbangan domestik dan 622 penerbangan internasional.
“Ada kurang lebih 341.000 penumpang yang terdampak, apakah stranded di bandara-bandara maupun akhirnya harus membatalkan penerbangannya,” ujar AHY saat melakukan peninjauan di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Senin (7/9/2026).
AHY menjelaskan, Kementerian Perhubungan bersama operator bandara dan maskapai penerbangan telah berupaya menangani dampak erupsi sejak hari pertama. Keputusan untuk menutup sementara atau mengalihkan penerbangan didasarkan pada pertimbangan keselamatan penerbangan.
Dasar utama penentuan kebijakan ini adalah penerbitan Notice to Airmen (NOTAM) oleh AirNav Indonesia. Selain itu, pemerintah juga melakukan paper test secara berkala bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) untuk memantau keberadaan dan kadar abu vulkanik.
“Penutupan sementara atau pengalihan penerbangan ini harus memiliki dasar. Yang pertama AirNav menyusun NOTAM yang menunjukkan jika ada hal-hal yang tidak memperkenankan atau melanggar SOP yang sudah kita jalankan selama ini terkait dengan keselamatan penerbangan maupun penumpang,” jelas AHY.
Pemerintah juga mengacu pada informasi dari Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin untuk memantau pergerakan abu vulkanik di kawasan Asia Pasifik. Laporan VAAC Darwin mengindikasikan abu vulkanik Gunung Anak Krakatau pada ketinggian sekitar 50.000 kaki telah bergerak menjauh menuju Samudra Hindia.
Meskipun demikian, abu vulkanik pada ketinggian di atas 15.000 kaki dilaporkan masih sedikit menyentuh wilayah Lampung dan Banten, serta berpotensi mencapai kawasan Jabodetabek. “Ini terus bergeser dengan kecepatan 10 knot menuju ke barat daya, artinya ke wilayah Samudra Hindia juga,” tambah AHY.
Kondisi ini menjadi pertimbangan pemerintah untuk tetap berhati-hati dalam membuka kembali bandara yang terdampak. AHY menegaskan, meskipun hasil paper test di beberapa lokasi mulai menunjukkan hasil negatif, keputusan akhir tetap mengacu pada informasi VAAC Darwin dan hasil pemantauan lainnya.
Keputusan strategis ini telah dibahas dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto secara virtual. Rapat tersebut melibatkan kementerian dan lembaga terkait, termasuk BMKG, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), serta Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di bawah Kementerian ESDM.
“Semua memberikan masukan kepada Bapak Presiden. Bapak Presiden tentunya memberikan direktif-direktif yang memastikan, sekali lagi, keselamatan nomor satu,” tegas AHY.
Lima Bandara Disiapkan 24 Jam
Untuk meminimalkan dampak pada masyarakat, pemerintah telah menyiapkan lima bandara untuk beroperasi selama 24 jam sebagai lokasi pengalihan penerbangan. Kelima bandara tersebut adalah Bandara Kertajati di Majalengka, Jawa Barat; Bandara Ahmad Yani di Semarang; Bandara Adi Soemarmo di Surakarta; Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) di Kulon Progo; dan Bandara Juanda di Surabaya.
Selain itu, beberapa bandara lain juga disiapkan sebagai alternatif, termasuk di Palembang, Pekanbaru, Pontianak, dan Balikpapan. Langkah ini diambil untuk memastikan konektivitas masyarakat tetap terjaga meskipun beberapa bandara harus ditutup atau penerbangannya dialihkan.
Pemerintah juga menjamin penumpang yang penerbangannya terdampak pembatalan akan mendapatkan hak pengembalian dana (refund) sebesar 100%. “Refund itu 100% harus dikembalikan, baik secara online maupun datang langsung ke bandara,” kata AHY.
Kebijakan ini telah disosialisasikan kepada maskapai dan online travel agent (OTA) untuk diterapkan kepada penumpang yang terdampak.
Selain fasilitas refund, pemerintah juga menyediakan sarana transportasi darat untuk membantu penumpang yang harus menggunakan bandara pengalihan. Layanan bus Damri dan kereta api melalui KAI disiapkan untuk menghubungkan penumpang dari bandara alternatif menuju Jakarta dan sebaliknya.
Penyeberangan Merak-Bakauheni Tetap Beroperasi
Di tengah gangguan penerbangan, AHY memastikan bahwa aktivitas penyeberangan Merak-Bakauheni tetap berjalan normal. Pemantauan selama dua hingga tiga hari terakhir tidak menunjukkan indikasi peningkatan permukaan air laut yang ekstrem, dengan kondisi gelombang yang masih dalam kategori moderat.
“Secara umum ini masih bisa beroperasi dengan baik. Tidak diindikasikan terjadi peningkatan permukaan air laut yang sangat ekstrem dan gelombang masih relatif dalam ukuran yang moderat,” ujarnya.
Meskipun demikian, aktivitas penyeberangan tetap diawasi secara ketat demi memastikan keselamatan pengguna jasa. AHY juga mengimbau masyarakat untuk menjaga kesehatan dari paparan abu vulkanik, yang tidak hanya berpotensi mengganggu operasional pesawat dan landasan pacu, tetapi juga dapat berdampak pada kesehatan.
Kelompok rentan, seperti lansia, balita, dan masyarakat dengan riwayat gangguan pernapasan, diminta untuk lebih waspada terhadap paparan abu vulkanik. Pemerintah mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti informasi resmi terkait kondisi Gunung Anak Krakatau dan operasional transportasi guna kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.