— Ungkapan “di situ gue diem” belakangan menjadi patokan cepat untuk menebak apakah sebuah teks dibuat manusia atau kecerdasan buatan. Frasa itu kerap muncul di utas media sosial sebagai penutup cerita dengan nuansa pasrah atau konyol.

Saat diminta memberi penjelasan, salah satu model AI, Gemini, mengemukakan klarifikasi terkait alasan penggunaannya. Model itu menyebut ada sejumlah faktor yang membuat frasa tersebut muncul dalam respons otomatis.

Alasan Pertama: Meniru Gaya Bahasa Gen Z

Gemini menyatakan bahwa ia belajar dari miliaran teks di internet, termasuk percakapan di platform media sosial. “Sebagai AI, saya belajar dari miliaran teks di internet, termasuk percakapan di Twitter/X, TikTok, dan Instagram. Frasa \”di situ gue diem\” atau \”di situ gue langsung diem\” adalah template cerita yang sangat sering dipakai netizen Indonesia saat menceritakan momen yang canggung (awkward), bikin syok, atau kehabisan kata-kata,” tutur Gemini.

Alasan Kedua: Supaya Terasa Relatable

Menurut Gemini, penggunaan bahasa santai dan gaul kerap diminta pengguna ketika menginginkan gaya penulisan yang informal. “Menggunakan kalimat pasrah khas anak muda seperti \”di situ gue diem\” bikin responsnya terasa lebih hidup dan tidak kaku seperti robot kantoran,” jelasnya.

Alasan Ketiga: Efek Humor dan Punch Line

Model itu juga menyebut pola tersebut efektif untuk konteks humor atau meme dalam budaya komedi digital Indonesia. “AI menangkap pola ini sebagai cara mengekspresikan situasi yang pasrah atau tidak tahu harus berbuat apa lagi. Fun Fact: AI tidak benar-benar bisa \”diem\” atau bengong. Itu hanyalah cara saya meniru emosi manusia agar obrolan kita terasa lebih seru dan tidak membosankan!” kata Gemini.

Penjelasan ini menegaskan bahwa penggunaan frasa populer tidak selalu mencerminkan niat atau kesadaran AI, melainkan hasil proses pembelajaran pola bahasa dari data yang tersedia.