— Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka mengimbau pelajar memanfaatkan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) sebagai alat bantu belajar, bukan sebagai jalan pintas yang membuat malas berpikir.

Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, Selasa (16/6/2026), Gibran menyatakan generasi muda perlu menguasai teknologi AI untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing di era saat ini.

Gibran menyebut AI berperan layaknya asisten pribadi yang dapat membantu mencari informasi, mempelajari bahasa asing, hingga menyederhanakan materi pelajaran yang rumit.

“AI adalah alat untuk mempercepat, bukan alat untuk membuat kalian malas,”

Menurutnya, pemahaman dan penguasaan AI tidak lagi sekadar soal tren masa depan, melainkan bagian dari kehidupan sekarang. Gibran menekankan bahwa generasi muda tidak boleh hanya menjadi penonton dalam perkembangan teknologi global.

“AI bukan lagi masa depan. AI adalah hari ini. Kita tidak bisa lagi menutup mata atau sekedar menjadi penonton. Kita harus menjadi pemain, kita harus menjadi penguasa teknologi tersebut,”

Imbauan Agar Tetap Kritis

Meski mendorong pemanfaatan AI, Gibran mengingatkan penggunaan teknologi itu tidak boleh mengurangi kemampuan berpikir kritis pelajar. Ia menegaskan AI harus memicu kreativitas dan memperkaya proses belajar, bukan menggantikan kemampuan manusia dalam menganalisis dan memecahkan masalah.

“Gunakan AI untuk memicu kreativitas, bukan untuk menggantikan kemampuan berpikir kalian sendiri,”

Pesan Untuk Guru dan Orang Tua

Gibran juga mengajak guru agar tidak takut menghadapi perkembangan teknologi. Ia menilai guru yang menguasai AI dapat memanfaatkan teknologi itu untuk mempermudah proses pembelajaran dan mengurangi beban administratif.

“Saya harap para guru tidak pernah menyerah untuk meningkatkan kemampuan diri. Guru yang menguasai AI akan memiliki kekuatan super untuk mendidik dengan lebih efektif,”

Ia menambahkan AI dapat membantu guru menyusun pertanyaan, menyederhanakan materi, dan menghadirkan contoh pembelajaran yang lebih mudah dipahami, sehingga guru punya waktu lebih banyak untuk menyentuh sisi humanis dan karakter murid.

Selain guru, Gibran menaruh perhatian pada peran orang tua. Ia mengingatkan agar orang tua tidak tertinggal dari perkembangan teknologi yang digunakan anak-anak, karena pendampingan tetap penting agar pemanfaatan AI berlangsung positif.

Etika Dalam Pemanfaatan AI

Gibran menekankan penguasaan teknologi harus disertai etika. Ia mengingatkan AI bisa dimanfaatkan untuk hal positif, namun juga berisiko disalahgunakan untuk menyebarkan hoaks, plagiarisme, atau melanggar privasi.

“Teknologi tanpa etika itu berbahaya. AI bisa digunakan untuk membuat konten positif, tapi juga bisa dipakai untuk menyebar hoax, melakukan plagiarisme, atau melanggar privasi orang lain,”

Ia meminta generasi muda memanfaatkan AI secara bertanggung jawab dan menjunjung tinggi integritas.

“Jangan gunakan AI untuk menipu. Jangan gunakan AI untuk menjatuhkan orang lain. AI harus digunakan untuk kesejahteraan bersama, untuk mempermudah hidup, bukan untuk menciptakan kekacauan sosial,”