Jurnal Indonesia — Seattle — Pertandingan penutup Grup G Piala Dunia 2026 antara Iran dan Mesir berakhir imbang 1-1 setelah drama pada masa injury time, ketika gol Iran dianulir karena offside.
Insiden terjadi setelah sundulan Khalilzadeh memanfaatkan bola liar dari situasi tendangan bebas. Pemain Iran sempat merayakan karena gol itu tampak memastikan kemenangan 2-1 yang akan membawa mereka ke posisi kedua klasemen Grup G dan lolos ke babak 32 besar.
Wasit kemudian mengajukan pemeriksaan VAR. Setelah tinjauan, gol Khalilzadeh dibatalkan dengan alasan offside, memicu reaksi kekecewaan dari pendukung Iran di stadion maupun pengguna media sosial.
Reaksi Netizen
Banyak pengguna media sosial mempertanyakan dasar keputusan offside tersebut. Beberapa komentar yang beredar antara lain:
“Saya sangat bingung bagaimana gol Iran ini dianulir karena offside. Bukankah bek Mesir di bagian atas itu yang menentukan garis offside, karena dia paling belakang? Jika ada yang tahu apa yang saya salah pahami tentang aturan offside, tolong beri tahu saya.”
“VAR benar-benar mengabaikan salah satu bek. Apakah Piala Dunia diatur?”
“Ini 100% bukan offside, VAR mabuk atau korup. Kembalikan gol Iran, ini omong kosong. Apa-apaan sih?”
Penjelasan Aturan Offside
Aturan offside menjelaskan bahwa seorang pemain berada dalam posisi offside jika pada saat bola dimainkan ia lebih dekat ke garis gawang lawan dibanding bola dan pemain lawan kedua terakhir.
Dalam praktiknya, dua pemain lawan terakhir yang dimaksud tidak selalu melibatkan kiper. Yang menjadi ukuran adalah dua pemain lawan yang posisinya paling dekat dengan garis gawang pada saat bola dimainkan, tanpa memandang apakah salah satunya adalah kiper.
Pada situasi gol Khalilzadeh, kiper Mesir telah meninggalkan garis gawang. Saat bola dimainkan, hanya terlihat satu pemain Mesir yang berada lebih dekat ke garis gawang dibanding Khalilzadeh. Karena tidak ada dua pemain lawan sebagai pembatas, gol tersebut akhirnya dinyatakan offside dan dianulir.
Ikuti Jurnal Indonesia
