Jurnal Indonesia — Google tengah menguji metode baru untuk reCAPTCHA yang memanfaatkan identifikasi biometrik berupa gerakan tangan. Fitur bernama Hand Gesture Verification (HGV) ini meminta akses webcam untuk merekam satu atau beberapa klip video tangan pengguna sebagai bagian dari proses verifikasi.
Berdasarkan dokumentasi yang dirilis perusahaan, rekaman video tersebut diproses untuk mengekstrak titik data biometrik yang diperlukan agar sistem dapat membedakan manusia dari program otomatis. Perusahaan menyatakan klip hanya dipakai untuk mendeteksi gerakan dan akan dihapus setelah verifikasi selesai.
Celah Keamanan Yang Terungkap
Meskipun pendekatan biometrik dinilai lebih canggih dibanding CAPTCHA tradisional, pengujian awal menunjukkan HGV mudah dikelabui. Penguji melaporkan bahwa sistem dapat ditipu hanya dengan menggunakan stok foto tangan dan kamera virtual.
Perangkat lunak seperti OBS Studio memungkinkan pemanfaatan kamera virtual sehingga diperlukan webcam fisik tidak lagi mutlak. Selain itu, metode pembobolan itu disebut-sebut dapat diotomatisasi menggunakan skrip, misalnya dalam bahasa Python.
Isu Privasi Dan Pernyataan Perusahaan
Kehadiran HGV memicu kekhawatiran kelompok yang menaruh perhatian pada privasi digital. Kritik utama menyoroti bahwa meminta akses kamera untuk proses verifikasi situs web dapat menormalisasi pengawasan latar belakang dan memperluas pengumpulan data oleh penyedia layanan.
Menanggapi sorotan tersebut, Google menyatakan bahwa video hanya diproses untuk mendeteksi gerakan tangan, tidak disimpan terkait identitas pengguna, dan tidak merekam audio. Pernyataan ini disampaikan dalam dokumentasi resmi perusahaan pada Selasa, 7 Juli 2026.
Perdebatan mengenai efektivitas dan implikasi privasi HGV masih berlangsung seiring uji coba teknologi ini berjalan lebih luas.
Ikuti Jurnal Indonesia
