Kesehatan, Kriminal

Kecanduan Rokok, Warga Tuntut Gudang Garam dan Djarum Rp1,4 Triliun

Perusahaan rokok PT. Gudang Garam.
Perusahaan rokok PT. Gudang Garam.

Jurnalindonesia.co.id – Merasa dirugikan akibat rokok, seorang ibu rumah tangga bernama Rohayani (50) melayangkan somasi kepada dua perusahaan rokok nasional, PT Gudang Garam Tbk dan PT Djarum.

Rohayani yang memiliki suami bekerja sebagai tukang parkir itu mengaku telah menjadi perokok selama 40 tahun dan karena itu dia dihadapkan pada dampak negatif rokok. Dia pun menuntut ganti rugi kepada dua produsen rokok itu.

Rohayani didampingi pengacara senior Todung Mulya Lubis dan Azas Tigor Nainggolan dari Solidaritas Advokat Publik untuk Pengendalian Tembakau (SAPTA) Indonesia.

“Kami mengajukan somasi kepada Djarum dan Gudang Garam selaku pelaku usaha yang memproduksi dan mengedarkan rokok yang dikonsumsi klien kami 1975 sampai 2000 sehingga ia mengalami kecanduan dan penurunan kualitas tingkat hidup,” kata Todung saat jumpa pers di Equity Tower, Jakarta Jumat (9/3).

“Tuntutan itu berdasarkan Pasal 19 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1999 tentang Perlindungan Konsumen,” ujar Todung.

Pasal 19 Ayat (1) Undang-Undang Perlindungan Konsumen menyatakan ‘Pelaku usaha bertanggung jawab memberikan ganti rugi atas kerusakan, pencemaran dan atau kerugian konsumen akibat mengonsumsi barang dan atau jasa yang dihasilkan atau diperdagangkan’.

Menurut Todung, industri rokok telah bertindak tidak jujur dengan tidak mencantumkan komposisi yang jelas pada produknya. Peringatan kesehatan yang ada pada bungkus rokok pun dinilai tidak memadai untuk memperingatkan bahaya rokok kepada konsumen.

“Konsumen selama ini tidak tahu apa saja komposisi dan dampak dari rokok. Itu pelanggaran yang dilakukan industri rokok,” kata Todung.

Rohayani, kata Todung, hanya salah satu dari sekian banyak konsumen rokok di Indonesia yang tidak memperoleh cukup informasi tentang bahaya rokok.

“Kami melihat Rohayani, seorang pecandu rokok, sudah menderita karena ketidakjelasan informasi yang diperlukan bagi perokok. Akibatnya, dia sakit,” ujarnya.

Rohayani sendiri mengaku sudah berkali-kali berobat karena sakit yang disebabkan oleh rokok sejak 2005. Akibat rokok, paru-parunya bahkan sudah berlubang. Namun, dia masih tetap merokok karena sudah kecanduan sehingga sulit berhenti.

“Saya berharap orang lain tidak merokok. Nanti dampaknya sama seperti saya,” kata Rohayani.

Kepada Gudang Garam, Rohayani menuntut ganti rugi sebesar Rp 178.074.000 sebagai ganti rugi uang yang dihabiskan Rohayani untuk membeli produk rokok ini, dan santunan senilai Rp 500 miliar. Sementara, PT Djarum Tbk dituntut membayar ganti rugi Rp 293.068.000, ditambah santunan senilai Rp 500 miliar.

Jika ditotal, tuntutan mencapai Rp 1,47 triliun.

Baca juga: Mabuk, Beli Rokok Lama Dilayani, Anggota Brimob Ini Lepas 2 Tembakan

Selain itu, ada satu alokasi lagi yang dituntut kepada dua perusahaan tersebut sebagai biaya perawatan kesehatan Rohayani.

“Untuk biaya kesehatan nanti masih akan kita hitung terlebih dahulu,” lanjut Todung.

Ia melanjutkan bahwa surat somasi ini sendiri dikirimkan kepada dua perusahaan pada 19 Februari 2018, sementara diakui Todung kedua perusahaan baru menerimanya pada awal Maret lalu.

Sementara Tigor menjelaskan, terkait somasi yang dilayangkan pihaknya akan menunggu pembayaran ganti rugi hingga tujuh hari mendatang.

“Jika tak dilaksanakan, ada kemungkinan kita akan membawanya ke ranah hukum,” katanya kepada Kontan seusai acara.

Baca juga: Mbah Gotho, Pria Perokok yang Tetap Sehat di Usia 145 Tahun

Berita lainnya