Nasional

Klarifikasi Rocky Gerung soal Kitab Suci Fiksi: Saya Enggak Pakai KBBI

Rocky Gerung
Rocky Gerung. [Foto: TEMPO/Muradi]

Jurnalindonesia.co.id – Rocky Gerung angkat bicara terkait pernyataannya yang memicu polemik soal kitab suci.

Kepada CNN Indonesia, Rocky menjelaskan maksud dia mengatakan bahwa kitab suci adalah fiksi.

Adapun dia menyampaikan hal tersebut dalam program Indonesia Lawyers Club (ILC) yang disiarkan langsung TVOne, Selasa (10/4) malam.

Dia mengaku tidak ada maksud sama sekali untuk menistakan agama. Hal itu ditegaskannya dengan tak menyebutkan langsung nama kitab suci.

Fiksi yang dimaksud Rocky bersifat imajinasi, dan bersifat positif menurutnya. Sementara yang memiliki makna negatif bagi Rocky adalah fiktif yang memiliki arti kebohongan dan kacau.

“Saya bilang fiksi, saya tidak bilang khayalan, bahkan saya gunakan kata imajinasi. Jadi fiksi itu menyimpulkan imajinasi. Jadi sifatnya imajinasi,” katanya kepada CNN Indonesia, Kamis (12/4) malam.

Rocky pun mengaku telah menjelaskan secara detail terkait hal tersebut pada saat acara itu berlangsung.

Baca: UI: Rocky Gerung Tak Lagi Jadi Dosen dan Bukan Profesor

Terkait makna kata ‘fiksi’ yang tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Rocky menegaskan bahwa pengertian fiksi yang dia maksudkan merupakan hasil dialektika pemikirannya, bukan yang dijelaskan dalam KBBI.

“Saya enggak pakai KBBI. Sebelum saya mengucapkan kitab suci itu fiksi, sebelum kalimat itu saya ucapkan, saya ucapkan dulu apa yang saya maksud dengan fiksi. Saya pakai keterangan berdasarkan definisi yang saya buat, saya bilang fiksi itu beda dengan fiktif. Dari awal saya sudah kasih tahu beda, kalau ada yang bilang sama, ya silakan bilang itu sama. Tapi, saya anggap itu beda, jadi silakan pakai definisi saya,” tegasnya.

Rocky menyatakan sebelum pengucapan kalimat yang kemudian dipersoalkan itu dirinya sudah melakukan batasan, analisa, hingga dalilnya.

“Kan urutannya jelas, saya terangkan dulu apa yang dimaksud dengan fiksi. Oleh karena itu saya berani mengatakan kitab suci itu fiksi di dalam pengertian tadi, yaitu menimbulkan imajinasi,” ucapnya.

Rocky kemudian mencontohkan imajinasi yang dimaksudnya, aitu bayangan seseorang mengenai wujud neraka atau surga saat membaca kita suci.

“Kan di dalam baca kita suci kita bayangin neraka itu api besar, surga itu taman bunga, ya itu buat kita yang ada sekarang yang mengerti itu,” tuturnya.

“Imajinasi itu fakultas dalam pikiran manusia diberikan agar kita bisa berpikir melebihi kenyataan, di bidang sastra itu berlaku, di dalam doa itu berlaku. Apa yang salah,” imbuhnya.

Loading...

Baca juga: PGI: Pernyataan Rocky Gerung Tak Menistakan Agama

Sebagaimana diketahui, atas pernyataannya soal kitab suci itu, Rocky dilaporkan Ketua Cyber Indonesia Permadi Arya didampingi Sekjennya, Jack Boyd Lapian ke Polda Metro Jaya pada Rabu (11/4) malam. Pelapor menilai pernyataan Rocky tersebut sudah melukai umat beragama di Indonesia.

Menanggapi tuduhan adanya unsur penistaan agama dalam pernyataan tersebut, Rocky membantahnya. Dia menegaskan bahwa kehadirannya di dalam program ILC TVOne sebagai narasumber yang dimintai pendapat.

“Kalau saya disebut saya menghina, berarti saya mengumpulkan banyak orang untuk mendengarkan hinaan. Itu saya diundang di situ (ke acara ILC TVOne) untuk menerangkan apa itu bedanya fiksi dan fiktif,” ujar Rocky.

“Lain kalau saya misalnya memang ingin menghina lalu kumpulin orang, ‘dengerin ya saya mau ngomong gini-gini konferensi pers’. Itu artinya inisiatif saya. Saya tidak berinisiatif, saya kan narasumber untuk menerangkan sesuatu karena diminta,” lanjutnya.

Atas dasar itu, Rocky pun menilai pihak-pihak yang melaporkannya ke polisi itu keliru lantaran dirinya berada di acara tersebut dan berbicara karena diundang.

Tak hanya itu, Rocky pun menyindir pelapor dirinya ke polisi memiliki kedangkalan ilmu akan dunia literasi, bahkan tidak pernah membaca buku sastra.

“Apa untungnya berdebat dengan orang yang tidak mengerti fungsi bahasa, enggak pernah baca sastra, enggak pernah ngalamin keindahan dalam imajinasi. Itu repot. Jadi biar saja dilaporkan ke polisi, supaya polisi juga bisa bedakan nanti apa ini orang masuk akal atau akalnya di luar gitu, di luar artinya enggak ada di kepala,” ujar Rocky.

Perubahan makna ‘Fiksi’

Rocky menjelaskan dirinya menyinggung soal kitab suci dalam program tersebut lantaran ingin menerangkan arti fiksi. Rocky menilai, fiksi telah mengalami peyorasi (perubahan makna) akibat ulah politisi. Ulah politisi yang dimaksudkannya adalah akibat ramainya perdebatan Indonesia Bubar 2030 yang ternyata adalah isi dalam novel fiksi berjudul Ghost Fleet: Novel of the Next World War.

Rocky mengakui di dalam kitab suci setiap agama ada yang faktual yakni kisah sejarah. Namun, dalam kitab suci pun ada pemaparan soal masa depan yang belum terjadi saat ini.

“Ada jejak arkeologis dari kitab suci, tetapi kitab suci itu intinya adalah yang di depan, ekstakologi. Saya bilang, ‘apa yg umat harapkan di depan, itu statusnya itu fiksional’…, tetapi [bagi] orang seperti pelapor fiksi artinya buruk dong,” kata dia.

Rocky menegaskan Tuhan memberikan fiksi kepada manusia agar bisa berimajinasi. Sementara, ketika orang menyebutkan fiksi sebagai hal buruk itu disebutnya menjadi indikator buruk tingkat literasi.

Baca juga: Tanggapan MUI Terkait Pernyataan Rocky Gerung Soal Kitab Suci

Loading...

Tulis pendapat anda