Teknologi

Kominfo Buka Blokir Tik Tok, Pengamat: Buka-Tutup Kayak Keran Air

Foto: istimewa

Jurnalindonesia.co.id – Akhirnya Kementrian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) membuka kembali media sosial Tik Tok setelah sebelumnya diblokir lantaran disinyalir banyak menampilkan konten negatif.

Namun, keputusan Kominfo untuk membuka blokir tersebut juga ditanggapi sinis oleh sebagian netizen dan pengamat telekomunikasi.

“Masa dalam waktu cepat dibuka lagi blokirnya tanpa ada evaluasi dan masa transisi. Ini udah kayak keran air, buka-tutup kalau lagi ingat aja,” kata Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi, di Jakarta (11/7).

Heru meminta agar Kominfo menghentikan pola ‘gertak’ blokir terhadap pemilik platform jika memang ingin membersihkan konten negatif atau membuat pebisnis tunduk kepada aturan.

“Idealnya harus ada standar dan aturan yang jelas. Janjinya mau bikin Peraturan Menteri soal Over The Top (OTT) agar blokir tak terkesan semena-mena dan ada aturan jelas bagi pemilik platform. Ditunggu udah bertahun-tahun mana?” tanyanya.

Baca: Tik Tok Resmi Diblokir, Ini Penjelasan Menkominfo

Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi

Pengamat telekomunikasi Heru Sutadi. (Foto: itoday.co.id)

Ditambahkannya, jika pola kerja Kominfo yang terkesan digerakkan adanya tekanan publik tetap dipertahankan, maka wajar banyak pengguna internet mempertanyakan nasib platform media sosial lainnya seperti Tumblr yang tak jelas nasib pemblokirannya, atau Twitter yang tak mampu menghalau konten pornografi.

“Ya wajar saja itu warganet jadi nyinyir nanyain ke Kominfo, Twitter gimana Pak? Cukup masukkan keyword berhubungan dengan pornografi, berserakan itu (pornografi) di Twitter,” ucapnya.

Sebelumnya, Kominfo mengumumkan segera membuka blokir Tik Tok.

“Tik Tok sudah mengajukan surat untuk membuka blokir tadi siang. Kita akan melakukan normalisasi,” kata Direktur Jenderal Aplikasi Informatika (Aptika) Semuel Abrijani Pangerapan, Selasa (10/7).

Semuel mengatakan, dari sepuluh syarat yang diminta pemerintah, sembilan poin sudah dipenuhi platform tersebut.

Sembilan syarat yang dipenuhi Tik Tok adalah akan membersihan konten negatif di platformnya, meningkatkan sistem keamanan produk dan penyaringan konten menggunakan kecerdasan buatan dan moderasi. Membuat Community Guidelines khusus bagi pengguna di Indonesia. Menunjuk Content Manager khusus untuk menjaga kualitas konten di Indonesia.

Selain itu juga menambah kurator hingga 200 personil pada akhir tahun. Menaikkan batas umur minimal pengguna menjadi 13 tahun.

Membuka peluang kerja sama dengan LSM maupun organisasi sosial dan edukasi di Indonesia. Memberikan jalur khusus bagi pemerintah Indonesia untuk pelaporan konten negatif.

Membuka kantor dengan mengurus perizinan PT di Indonesia. Saat ini aplikasi itu telah memiliki kantor untuk moderasi konten.

Sedangkan, satu syarat yang masih berada dalam proses adalah terkait posisi tombol untuk melaporkan konten negatif. Sebelumnya, tombol tersebut berada di dalam opsi untuk membagikan konten. Kominfo meminta tombol tersebut dipindahkan ke halaman utama agar lebih mudah diakses.

Aplikasi Tik Tok resmi diblokir oleh Kominfo pada Selasa (3/7/2018) lalu. Sebanyak delapan Domain Name System (DNS) ditutup pemerintah.

Selama sebulan terakhir, Kominfo telah mengawasi Tik Tok dan menerima laporan dari masyarakat sebanyak 2.853 laporan.

Juga ada gugatan yang dibuat oleh seorang aktivis bernama Agustiawan di situs petisi online Change.org. Agustiawan meminta agar aplikasi media sosial berbasis video streaming itu diblokir.

Menurut Agustiawan, awalnya Tik Tok bagus karena dibuat untuk menjadi wadah berkreasi penggunanya, namun makin ke sini malah disalahgunakan dan kian menunjukkan aksi kebodohan penggunanya.

Bahkan, katanya ada juga video Tik Tok berisi pornografi dan itu bisa ditonton oleh semua kalangan usia.

Oleh sebab itu, dia menuntut pemerintah agar aplikasi ini diblokir.

Petisi ini pun mendapatkan banyak dukungan dari warganet. Hingga Selasa (3/7/2018) siang, petisi yang dibuat Agustiawan itu sudah meraih dukungan dari 51.231 orang.

Setelah diblokir, aplikasi ini memang masih tetap bisa diunduh tetapi seluruh kontennya tak bisa dilihat.

Menurut keterangan Menkominfo Rudiantara, pemblokiran ini dilakukan setelah pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (PPS) dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Rudiantara mengatakan, pemblokiran Tik Tok bersifat sementara.

Loading...

Berita lainnya