DIY Yogyakarta, Nasional

Kritik Kebijakan Rektor UIN, MUI: Jangan Larang Orang Pakai Cadar

Wanita mengenakan cadar ketika melintas di dikawasan perdagangan di Misfalah, Makkah
Ilustrasi: wanita mengenakan cadar ketika melintas di dikawasan perdagangan di Misfalah, Makkah, Selasa (17/11). (Foto: Antara/Maha Eka Sawasta)

Jurnalindonesia.co.id – Majelis Ulama Indonesia (MUI) angkat bicara terkait polemik penggunaan cadar oleh mahasiswi saat beraktivitas di lingkungan sekolah atau kampus.

Sebelumnya, Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, menerapkan aturan yang berisi larangan mengenakan cadar bagi mahasiswi saat beraktivitas di area kampus.

Menurut Rektor Yudian Wahyudi, sebagai kampus negeri UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta harus berdiri sesuai Islam yang moderat atau Islam nusantara. Yakni Islam yang juga mengakui konsensus bersama yaitu Undang-undang Dasar 1945, Pancasila, Kebhinnekaan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Namun MUI mengaku keberatan dengan adanya peraturan tersebut. Bahkan, MUI berpendapat aturan tersebut bertentangan dengan hukum yang lebih tinggi yakni UUD 1945.

Di undang-undang tersebut dinyatakan bahwa negara menjamin kemerdekaan bagi tiap penduduk untuk menganut dan menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaan masing-masing.

“Jadi kalau ada sebuah lembaga yang melarang kemerdekaan itu berarti dia membuat kebijakan yang bertentangan denan aturan yang lebih tinggi. Jadi batal demi hukum aturan itu,” kata Sekjen MUI, Anwar Abbas saat dikonfirmasi, di Jakarta, Selasa (6/3/2018).

Dia pun mengimbau agar kampus tidak melarang mahasiswinya mengenakan cadar.

“Jangan dilarang-larang orang pakai cadar. Jadi kampus tidak perlu mengatur larangan pakai cadar,” ujar Anwar.

Menurut Anwar, sudah semestinya masyarakat bertoleransi dengan adanya perbedaan cara pandang soal cadar.

“Sikap MUI mengimbau agar masyarakat toleransi, supaya masyarakat bisa menerima perbedaan pendapat masalah cadar. Kampus harus hormatilah perbedaan pendapat itu,” jelas Anwar.

Baca juga: Dari Cadar hingga Bendera HTI, Rektor UIN Merasa Kampusnya Seperti Dikudeta

Hal senada juga disampaikan Ketua MUI Maruf Amin. Maruf menanyakan alasan pihak UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta menerapkan aturan larangan pemakaian cadar.

“Secara Islam boleh, tapi ada aspek apa sehingga UIN melarang. Kita dengar dulu alasannya apa,” kata Maruf di kantor MUI, Jakarta Pusat, Selasa (6/3/2018).

Maruf menilai, seorang perempuan yang menutupi wajahnya dengan cadar itu bagus menurut agama Islam. Namun, kata dia, harus ada alasan yang masuk akal jika ada larangan pemakaian cadar.

“Kalau alasannya ada suatu yang masuk akal, kemaslahatan apa maka tidak boleh gunakan cadar misalnya,” ujar dia.

Selain MUI, sikap keberatan juga disampaikan ormas Islam Muhammadiyah.

“Pelarangan cadar di kampus ini sesuatu yang sangat dangkal, karena cadar itu kan hanya simbol-simbol saja,” kata Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Yogyakarta Azman Latif, di Yogya, Selasa (6/3/2018).

Jika tujuannya untuk menghapus benih radikalisme, menurut Azman, tak bisa menggunakan cara yang sifatnya teknis seperti melarang penggunaan cadar. Melainkan dengan pemahaman pengertian kepada yang bersangkutan yang menyentuh hati dan pikirannya. Bukan soal pakaian yang digunakan.

“Meskipun kampus melarang penggunaan cadar seperti itu, belum tentu menjamin akan menghapus bibit radikalisme maupun intoleransi,” ujarnya.

“Kan bisa saja, di dalam kampus cadar dilepas, di luar dipakai lagi,” katanya.

Berdasarkan data kampus UIN Sunan Kalijaga terdapat 41 mahasiswi yang mengenakan cadar. Rektor UIN Sunan Kalijaga Yudian Wahyudi mengancam akan mengeluarkan mereka jika sudah tujuh kali diperingatkan dan dibina.

Pihak kampus, kata Yudian, telah membentuk tim konseling atau pendampingan bagi mahasiswi yang menggunakan cadar. Jika sudah dibina melalui tujuh tahapan itu, namun tetap menggunakan cadar mereka dipersilakan keluar dari UIN Sunan Kalijaga.

Menurut Yudian, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta adalah universitas negeri yang harus berdiri sesuai Islam yang moderat atau Islam nusantara, Islam yang juga mengakui konsensus bersama yaitu yang mengakui Undang-undang Dasar 1945, Pancasila, Kebhinekaan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Keputusan larangan cadar baru berlaku di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Adapun kampus negeri lainnya di Yogya yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM) belum mengeluarkan larangan itu.

Iva Aryani, juru bicara UGM, menyatakan, kampus itu tidak melarang mahasiswi memakai cadar. UGM lebih fokus menumbuhkan nilai-nilai nasionalisme.

“Untuk menunjukkan jati diri sebagai mahasiswa yang menjunjung nilai-nilai kebangsaan, nasionalis, pancasila seperti jati diri UGM,” kata dia.

Berita lainnya