Nasional

Masih Bingung Istilah Naturalisasi Sungai? Simak Nih Penjelasan Ahli Tata Kota

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau Pintu Air Manggarai, Senin (5/2/). (Foto: Kompas)

Jurnalindonesia.co.id – Kepada wartawan, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, menyebut istilah naturalisasi sungai, alih-alih normalisasi.

Hal tersebut Anies ungkapkan saat ditanya awak media terkait solusi penanganan banjir yang masih kerap melanda Ibu Kota.

“Salah satunya (solusi) ada soal naturalisasi sungai. Bagaimana sungai itu bisa mengelola air dengan baik, bagaimana mengamankan air tidak melimpah, tapi juga ekosistem sungai dipertahankan,” kata Anies di Jakarta Utara, Rabu (7/2/2018).

Namun Anies tidak menjelaskan lebih detail konsep naturalisasi yang dimaksud.

Pengamat tata kota dari Universitas Trisakti, Nirwono Joga, mencoba memberi penjelasan mengenai perbedaan antara normalisasi dan naturalisasi sungai.

Menurut Nirwono, naturalisasi sungai adalah melakukan pembenahan sungai dengan alamiah, seperti pembuatan tebing sungai dengan tanah yang kemudian ditanami pohon.

“Dengan begitu, air menyerap. Tidak seperti normalisasi,” kata Nirwono dalam diskusi publik Marginalisasi RTH di Depok, di Kota Depok, Senin (12/2/2018).

Baca juga: BBWSCC Belum Memahami Konsep ‘Naturalisasi’ Sungai ala Gubernur Anies

Akademisi Universitas Trisakti dan pengamat lansekap, Nirwono Joga.

Akademisi Universitas Trisakti dan pengamat lansekap, Nirwono Joga.(Foto: Kompas/Kurnia Sari Aziza)

Berbeda dengan naturalisasi. Normalisasi sungai pemasangan pemasangan dinding beton yang akibatnya membuat aliran air semakin kencang ke hilir dan mempercepat sedimentasi lumpur di sungai.

Proyek ini memang lebih cepat selesai dibandingkan naturalisasi yang membutuhkan waktu sekitar 5 tahun untuk melihat hasilnya.

Namun, Nirwono berpendapat, program naturalisasi lebih ekonomis dan praktis. Selain itu memberikan manfaat utamanya terhadap ekosistem dan ketersediaan air tanah.

Di sejumlah negara Eropa, kata Nirwono, sudah mulai meninggalkan sistem normalisasi sungai sejak tahun 1990-an. Pemerintah di sana membongkar beton di sisi sungai pada beberapa ruas dan melakukan naturalisasi.

“Kemudian di Sidney sejak tahun 2007, mereka sadar normalisasi hanya membuat lingkungan semakin rusak akhirnya menggantinya dengan naturalisasi,” katanya.

Baca juga: Dengan Naturalisasi, Air Sungai di Jakarta Nantinya Bisa untuk Diminum

Berita lainnya