Ekonomi dan Bisnis

Menkeu Era SBY: Pertemuan IMF-World Bank Diajukan pada 2014, Bukan untuk Tambah Utang

Chatib Basri
Chatib Basri. (Foto: Chatibbasri.net)

Jurnalindonesia.co.id – Menteri Keuangan era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Chatib Basri, angkat bicara terkait pertemuan IMF dan World Bank (Bank Dunia) yang digelar di Bali Oktober 2018 ini.

Pertemuan tersebut menuai kontroversi karena besaran biaya yang dianggarkan pemerintah untuk acara itu di tengah bancana yang saat ini melanda Lombok, Palu, dan Donggala.

Sejumlah pihak menyebut pemerintah hanya menghamburkan uang. Bahkan mereka meminta pemerintah membatalkan acara tersebut.

Ada pula pihak yang kemudian menanyakan soal asal mula dipilihnya Indonesia sebagai tuan rumah.

Pada 2014, pemerintahan SBY bersama Bank Indonesia mengajukan diri sebagai tuan rumah. Hal itu kemudian membuat banyak pihak bertanya kepada Menteri Keuangan era itu, Chatib Basri.

Ketua DPP Partai Demokrat, Mone Thamrin meminta bukti jika yang mengajukan diri menjadi tuan rumah pertemuan IMF dan Bank Dunia adalah SBY.

“Mohon bukti yang mengajukan Presiden SBY saat itu. Cc ke @ChatibBasri yang menjadi Menteri Keuangan saat itu,” tulis @monethamrin.

Chatib Basri lantas membenarkan jika yang mengajukan Indonesia menjadi tuan rumah pertemuan adalah SBY.

“Ya benar, bersama Bank Indonesia, pemerintah mengajukan diri menjadi tuan rumah pertemuan tahunan September 2014. Prosesnya tidak mudah, bersaing dengan negara-negara lain. Indonesia dipilih menjadi tuan rumah Oktober 2015, kalau saya tidak salah,” tulis Chatib Basri di akun Twitter @ChatibBasri pada Minggu (7/10/2018).

Chatib pun menjelaskan lebih detail mengenai pertemuan IMF-Bank Dunia ini. Menurut dia, pertemuan tersebut bisa dimanfaatkan oleh Indonesia untuk memasukkan agendanya.

Selain itu, ia juga mengungkapkan apabila pertemuan ini bukan untuk membahas soal tambahan utang negara.

“Karena banyak pertanyaan soal IMF/World Bank annual meeting, mungkin saya perlu tweet-kan beberapa hal,” tulis Chatib membuka penjelasan.

“Pemerintah bersama Bank Indonesia, pemerintah mengajukan diri menjadi tuan rumah pertemuan tahunan September 2014. Prosesnya tidak mudah, bersaing dengan negara-negara lain. Indonesia dipilih menjadi tuan rumah Oktober 2015.

Di Asia setahu saya baru Filipina, Singapore, Thailand dan Indonesia. Baru empat negara termasuk Indonesia. Proses menjadi tuan rumah tidak mudah, diseleksi dan dilihat kemampuannya.

Ada pertanyaan apakah dengan pertemuan tahunan tujuannya untuk meminta tambahan utang?

Jawabannya Sama sekali tidak. Utk meminta tambahan utang, tidak perlu jadi tuan rumah.

Argentina meminta utang IMF tahun ini karena krisis. Mereka bukan tuan rumah.”

Baca juga: Petinggi IMF Sanjung Jokowi, Fadli Zon: Hati-hati Pujian Beracun

“Di dalam pertemuan ini dibahas situasi ekonomi dunia, diskusi mengenai kebijakan negara-negara. Perkembangan teknologi dsb. Indonesia bisa memanfaatkan itu untuk komunikasi dan memasukkan idenya.

Bersama Gubernur Rajan dari India saat itu dalam meeting terbatas saya meminta The Bernanke dari the Fed untuk melakukan komunikasi dan mempertimbangkan dampak policy-nya pada emerging economies. IMF mendukung kita.

Ini contohnya posisi Indonesia yang diperjuangkan juga di annual meeting US warned over recovery as QE3 uncertainty risks EM slowdown.

Tahun 2014, ketika Yellen menjadi chair the Fed, Ia mulai mengkomunikasikam policy-nya, agar negara lain siap.

Di G-20 Sydney misalnya, saya dan Gub Rajan menjadi lead speaker bersama Yellen waktu itu, membahas dampak Fed policy terhadap emerging market.

Itulah salah satu manfaat pertemuan tahunan. Kita bisa memperjuangkan ide kita di forum-forum itu.

Sedangkan untuk tambahan utang, tak perlu pertemuan tahunan. Indonesia justru harus memanfaatkan pertemuan tahunan ini untuk memasukkan agendanya. Dengan begitu Indonesia akan berperan di level global.

Ada satu lagi pertanyaan ke saya, apakah biayanya diajukan th 2014? Tentu tidak. Indonesia diputuskan menjadi tuan rumah Oktober 2015.

Setelah itulah baru anggaran disusun. Dan itu terserah Indonesia mau membuatnya besar atau kecil.

Sama seperti Asian Games juga,” tulis Chatib.

Baca juga: Bagi Rizal Ramli Selamatkan Bank Century Adalah Perkara Mudah

Diketahui, pertemuan IMF-World Bank Annual Meetings (AM 2018) digelar pada 8-14 Oktober 2018 di Bali.

Pertemuan ini merupakan pertemuan terbesar dunia dalam bidang ekonomi dan keuangan, yang menghadirkan Gubernur Bank Sentral dan Menteri Keuangan dari 189 negara anggota.

Tak hanya itu, sektor privat, para akademisi, Non Goverment Association (NGO), serta media juga akan hadir pada pertemuan ini.

Total peserta AM 2018 ini diperkirakan mencapai 32 ribu orang.

Dalam pertemuan tersebut, turut diselenggarakan pula beberapa event lain, misalnya seminar, investment forum, Focus Group Discussion (FGD), workshop, dan cultural events.

Pertemuan ini diharapkan akan memberikan manfaat bagi Indonesia, khususnya dalam peningkatan cadangan devisa, perdagangan dan investasi, pariwisata.

Loading...

Tulis pendapat anda