Jurnal Indonesia — Musim kemarau meningkatkan tekanan pada pusat data (data center) yang harus memastikan layanan digital tetap berjalan 24 jam. Kenaikan suhu lingkungan memperbesar beban sistem pendingin dan potensi gangguan operasional.
Gangguan kecil di data center berisiko menghentikan layanan penting—mulai transaksi perbankan, e-commerce, layanan publik, hingga operasional perusahaan—karena banyak aktivitas bisnis bergantung pada infrastruktur ini.
Chief Operating Officer LG Sinar Mas, Ariawan, menegaskan perubahan temperatur dan kelembapan harus diantisipasi sejak perencanaan hingga operasi harian. Pernyataan itu disampaikan pada akhir Juni 2026.
“Data center beroperasi selama 24 jam tanpa henti. Karena itu, perubahan temperatur, kelembapan, maupun beban listrik harus diantisipasi sejak tahap desain hingga operasional sehari-hari,”
Pendinginan Sebagai Bagian Strategis
Menurut Ariawan, sistem pendingin bukan sekadar fasilitas penunjang tetapi fondasi menjaga performa perangkat TI. Fasilitas perlu dilengkapi kapasitas cadangan, pemantauan real time, dan program preventive maintenance yang tidak mengganggu pelanggan.
“Sistem pendingin harus dipandang sebagai bagian dari strategi menjaga uptime dan kualitas layanan digital, bukan sekadar fasilitas pendukung,”
Ia menambahkan bahwa solusi tidak cukup hanya menambah kapasitas pendingin. Seluruh ekosistem—sistem kelistrikan, pendinginan, monitoring, hingga sumber daya manusia—harus bekerja terintegrasi untuk menjaga stabilitas layanan digital.
Desain, Manajemen Risiko, dan Kepatuhan
Ariawan mengatakan ketahanan operasional perlu dibangun sejak tahap desain fasilitas, diikuti manajemen risiko dan prosedur operasional yang disiplin. Perubahan peran data center kini menjadikannya infrastruktur strategis, bukan sekadar tempat penyimpanan server.
Di sektor terregulasi seperti perbankan dan telekomunikasi, keandalan data center bahkan menjadi bagian dari kepatuhan yang dapat diaudit. Perusahaan dinilai perlu merancang sistem dengan redundansi memadai, monitoring berkelanjutan, dan standar sertifikasi seperti Tier atau ISO 22301 untuk manajemen kontinuitas bisnis.
Perubahan kebutuhan pelanggan enterprise turut mendorong kriteria pemilihan penyedia infrastruktur digital. Selain kapasitas, aspek keandalan, keamanan, skalabilitas, konektivitas, efisiensi energi, serta dukungan untuk teknologi seperti cloud, AI, dan disaster recovery kini menjadi pertimbangan utama.
“Bagi kami, mengelola data center bukan hanya menjaga fasilitas tetap beroperasi. Yang lebih penting adalah memastikan bisnis pelanggan tetap berjalan dalam berbagai kondisi,” tutup Ariawan.
Ikuti Jurnal Indonesia
