Jurnal Indonesia — Elon Musk menyatakan sedang mengembangkan chip kecerdasan buatan yang menurutnya 2–3 kali lebih baik dibandingkan chip Nvidia, sekaligus diklaim jauh lebih murah.
Dalam sebuah wawancara virtual dengan pendiri Baron Capital, Ron Baron, Musk mengatakan biaya pembuatan chip itu hanya sekitar 10 persen dari biaya chip pesaing. Ia juga menyampaikan keyakinannya atas desain perangkat keras tersebut.
“Saya sudah menyimpan seluruh desain fisik chip tersebut dalam memori, saya dapat memvisualisasikannya secara keseluruhan,” ujar Musk dalam wawancara tersebut.
Rencana TeraFab dan Keterlibatan Mitra
Pada Maret 2026, Musk mengumumkan rencana kolaborasi antara Tesla, SpaceX, dan xAI untuk membangun fasilitas manufaktur chip bernama TeraFab. Intel kemudian bergabung dalam upaya itu pada bulan April.
Tesla sejauh ini merancang chip inferensi AI sendiri namun memproduksinya lewat pihak ketiga. Untuk mewujudkan visi fabrikasi mandiri, dibutuhkan peralatan fabrikasi yang sangat khusus, sehingga keterlibatan perusahaan pembuat peralatan menjadi penting.
Musk juga sempat bertemu dengan CEO ASML, Christophe Fouquet, dalam sebuah acara karyawan. Fouquet menyatakan bahwa ia telah berbicara dengan Musk mengenai TeraFab dan SpaceX, dan menyebut, “Dia sangat serius tentang semua proyek tersebut.”
Apakah Nvidia Terancam?
Pengembangan chip yang secara performa dua hingga tiga kali lebih baik dari arsitektur GPU Blackwell Nvidia memungkinkan jika terdapat terobosan arsitektur, terutama pada bandwidth memori. Namun menyamakan performa tinggi dengan biaya produksi hanya sepersepuluh biaya Nvidia menjadi tantangan tersendiri.
Sumber juga menyebut bahwa Nvidia terus mengembangkan chip yang lebih efisien. Contohnya, chip Vera Rubin baru Nvidia diklaim mampu menghasilkan hingga 10 kali lebih banyak token per megawatt dibandingkan chip GB200 berbasis arsitektur Blackwell.
Selain itu, ada kemungkinan TeraFab tidak serta-merta langsung menjadi pemasok bagi pesaing Nvidia. Bahkan jika Musk berhasil menghadirkan chip dengan spesifikasi lebih unggul, SpaceX dan Tesla mungkin tetap menjadi pelanggan utama fasilitas tersebut.
Ikuti Jurnal Indonesia
