Nasional, Pria

Muslahuddin, Pria Aceh yang Tinggalkan Gaji Rp75 Juta di World Bank untuk Jadi Petani

Muslahuddin Daud tinggalkan jabatan di World Bank untuk menjadi petani.
Muslahuddin Daud tinggalkan jabatan di World Bank untuk menjadi petani.

Jurnalindonesia.co.id – Muslahuddin Daud, pria asal Pidie Jaya, Aceh, ini memilih meninggalkan pekerjaan yang sudah dilakoninya selama 13 tahun di World Bank. Dia memutuskan resign pada 2014 lalu untuk menjadi petani.

Padahal, gajinya sebagai Social Development Specialist di World Bank mencapai Rp 75 juta. Namun dia ditinggalkan, kemudian memutuskan untuk membeli 20 hektare kebun di Paya Dua Panten Jeulatang, Kecamatan Lamteuba, Aceh Besar.

Kebun tersebut terbagi dalam empat petak dan dikelola oleh empat keluarga. Di kebun ini ditanami beragam tanaman, seperti pepaya, cabai, jagung, kopi, dan pisang.

Saat ini, dua kebun miliknya yang didominasi oleh tanaman pepaya tumbuh dengan subur.

“Secara alamiah, tanaman itu suka kawan jadi kita buat aja dia banyak teman. Tapi kita atur dengan konsep secara sengaja. Seperti pepaya di sini, pisang di sini. Variasi tumbuhan ini bisa bervariasi juga ke pendapatan petani,” kata Muslahuddin atau yang akrab disapa Pak Mus.

Muslahuddin berkisah, keputusannya untuk keluar dari World Bank untuk memilih menjadi petani bukanlah tanpa rintangan. Terutama dari pihak istri dan keluarganya. Namun karena tekadnya untuk berkebun sudah sangat kuat, akhirnya Pak Mus berhasil meyakinkan keluarganya. Dia pun optimistis suatu saat usahanya ini akan berhasil.

“Keluarga pertama protes. Istri saya sukanya toko, beli tanah di kota. Tapi bergerak dari sebuah keyakinan dibarengi dengan ilmu, saya yakin saja suatu saat akan berhasil,” tutur Muslahudin.

Muslahuddin Daud

Muslahuddin Daud di kebun miliknya. (Foto: acehtrend.co)

Selain menggarap lahan miliknya seluas 20 hektare, Muslahuddin bertugas membina sekitar 4 ribu petani di seluruh Aceh. Dia turun ke petani-petani untuk membimbing mereka dari cara menanam hingga panen. Proses bimbingan ini dia lakukan secara sukarela.

Biaya yang dikeluarkan untuk berkebun dan membina petani pun tidak sedikit. Muslahuddin sudah mengeluarkan biaya miliaran rupiah. Petani yang dia bina pun mulai dari petani kopi, cengkeh, cabai, hingga bawang.

“Yang lebih penting kerja saya di luar Lamteuba sebenarnya. Selama ini hampir 4 tahun menjadi trainer di berbagai wilayah atas permintaan dari masyarakat. Biaya yang saya keluarkan sudah sekitar Rp 1,5 miliar. Itu untuk beli bibit dan bina petani,” ucapnya.

Proses Pak Mus mengelola kebunnya juga tak selalu berjalan mulus. Awal mula menjadi petani, kebunnya pernah dibakar oleh orang tak dikenal hingga dua kali.

“Kebun dibakar, gubuk dibakar, tanaman dan rumah juga dibakar. Entah apa penyebabnya, tapi itu dibakar,” kata Muslahuddin.

Kejadian itu hampir saja membuatnya putus harapan. Namun dia berusaha bangkit. Setelah kebunnya membuahkan hasil, Muslahuddin mulai dilirik warga hingga berubah seperti sekarang.

Terpilih jadi pahlawan untuk Indonesia 2017

Atas kerja kerasnya di bidang pertanian, Muslahuddin pernah mendapat berbagai penghargaan. Salah satunya terlilih sebagai ‘Pahlawan untuk Indonesia kategori pertanian 2017’ yang diselenggarakan TV swasta Nasional MCN TV.

Ifadah Marzuki, produser acara Pahlawan untuk Indonesia (PUI) bersama kru MNC TV langsung datang ke Aceh untuk menyerahkan tropi dan penghargaan.

“Tidak seperti biasanya prosesi, penyerahan tropi diserahkan pada saat Muslahuddin Daud justru sedang membuat pelatihan pertanian di kawasan Lamteuba untuk petani wilayah tersebut. Tahun 2017, penyerahan tidak dilakukan di studio karena MNC TV ingin terus memantau kelanjutan dan kesinambungan kegiatan si pemenang,” kata Ifadah, dalam rilis, Rabu (27/12/2017).

Muslahuddin Daud menerima penghargaan 'Pahlawan untuk Indonesia (PUI)' yang diselenggarakan MCN TV.

Muslahuddin Daud menerima penghargaan ‘Pahlawan untuk Indonesia (PUI)’ yang diselenggarakan MCN TV.

Dia menambahkan, prosesi penjurian PUI berlangsung sangat ketat, mulai dari tim MNC TV hingga dewan juri yang beranggotakan menteri Sosial Kofifah Indarparawangsa, Prof. Mahfud MD, Mantan Ketua MK dan Prof. Firmansyah, Rekor Universitas Paramadina.

Selain menyerahkan tropi dan pengghargaan, Tim MNC TV juga membuat film dokumenter lanjutan kegiatan Muslahuddin yang kali ini memfokuskan pada konsep dinamika agroforestry yang merupakan jawaban dari persoalan ekonomi, ekologi dan sosial masyarakat.

Berita lainnya