Jurnal Indonesia — Desain pusat data generasi baru dari Nvidia, bernama Rubin, menimbulkan perbincangan usai diklaim mampu memangkas penggunaan air hampir sepenuhnya. Perusahaan menyebutkan rancangan referensi itu menggunakan sistem pendingin cair yang meniadakan kebutuhan penguapan air konvensional.
Model yang disebut DSX AI factory ini diklaim mengeliminasi sebagian besar konsumsi daya sekaligus menekan hampir seluruh kebutuhan air di lokasi fasilitas, menurut penjelasan resmi Nvidia.
Bagaimana Sistem Bekerja
Pada inti rancangan adalah sirkuit pendingin cair tertutup yang dirancang beroperasi pada suhu lebih tinggi dari praktik umum. Nvidia menggunakan campuran air dan propilen glikol sebagai cairan pendingin yang aman hingga 45 derajat Celsius.
Panas ditangkap langsung di tingkat chip—termasuk CPU dan GPU—lalu dialirkan melalui sirkuit tertutup. Karena cairan bekerja pada suhu yang relatif tinggi, pembuangan panas dapat dilakukan dengan menggunakan outdoor dry coolers hampir sepanjang tahun, sehingga mengurangi atau bahkan menghilangkan kebutuhan akan chiller mekanis yang boros energi.
Penghematan Air yang Diklaim
Josh Parker, Head of Sustainability Nvidia, menyebut desain referensi ini sebagai “lompatan besar.” Nvidia menjelaskan bahwa pada sistem cooling-tower konvensional yang mengandalkan penguapan, sebuah pusat data dapat menggunakan sekitar 2,6 juta galon air per megawatt setiap tahun.
Dengan arsitektur liquid cooling generasi Rubin, perusahaan mengklaim konsumsi air di lokasi fasilitas bisa ditekan mendekati nol, atau pengurangan hingga 100 persen dibanding model penguapan konvensional.
Respons dan Tantangan
Meski klaim efisiensi mendapat sambutan, sejumlah pihak mempertanyakan aspek transparansi, terutama soal perbandingan biaya pembangunan infrastruktur pendingin cair ini dengan sistem pendingin udara tradisional yang biayanya relatif lebih rendah.
Nvidia menyatakan bahwa penyedia layanan cloud dan operator pusat data yang membangun infrastruktur untuk generasi Rubin tengah beralih menuju solusi tersebut.
Catatan tambahan menyebutkan bahwa penggunaan air di pusat data menjadi sorotan publik. Sebagai ilustrasi, baru-baru ini disebutkan sebuah perusahaan teknologi besar mengonsumsi sekitar 2,5 miliar galon air secara global dalam setahun, angka yang memicu perhatian di tengah isu ketersediaan air dan perubahan iklim.
Ikuti Jurnal Indonesia
