Jurnal Indonesia — Penutupan kompleks industri dan petrokimia di Jubail, Arab Saudi, awal tahun ini memicu krisis pasokan resin polyphenylene ether (PPE) kemurnian tinggi yang kini mengancam produksi perangkat elektronik global.
Resin PPE menjadi komponen penting dalam pembuatan papan sirkuit cetak (PCB) karena kemampuannya menahan panas, menjaga stabilitas sinyal, dan memastikan keandalan perangkat. Tanpa pasokan stabil bahan ini, kinerja smartphone, laptop, server AI, pemancar 5G, dan kendaraan listrik berisiko terganggu.
Awal Krisis dan Gangguan Logistik
Gangguan pasokan bermula sebelum serangan rudal pada 6-7 April 2026. Sejumlah pabrik sudah mulai menutup operasi sejak akhir Maret karena pengiriman kargo melalui Selat Hormuz dinilai berisiko akibat memanasnya konflik. Serangan rudal kemudian memperparah kondisi logistik yang sebelumnya telah melemah.
CEO Dow, Jim Fitterling, yang memiliki usaha patungan dengan Saudi Aramco di kompleks tersebut, memperkirakan dibutuhkan setidaknya “275 hari lebih” sebelum sistem logistik dan rantai pasok dapat kembali normal.
Dampak Terhadap Harga dan Waktu Tunggu
Gangguan pasokan membuat produsen kesulitan mencari pengganti resin PPE. Proses rekayasa ulang papan sirkuit, pengujian ulang performa, dan sertifikasi keamanan menambah kompleksitas penggantian material.
- Harga PCB global dilaporkan melonjak hingga 40% antara Maret dan April.
- Beberapa produsen meningkatkan harga jual PCB sebesar 5%–25%.
- Waktu tunggu untuk bahan resin epoksi naik dari sekitar 3 minggu menjadi 15 minggu.
Profesor Usha Haley dari Wichita State University menyatakan bahwa kompleks Jubail memasok sekitar 70% kebutuhan resin PPE kemurnian tinggi dunia. “Produksi kini terhenti total, dan tidak ada pemasok alternatif yang mampu menutupi kekosongan tersebut,” katanya.
Implikasi untuk Produsen dan Konsumen
Para analis memperingatkan kenaikan biaya produksi akan memengaruhi harga perangkat elektronik ke konsumen, meskipun konsumen jarang mengetahui detail teknisnya. “Papan sirkuit adalah sistem saraf dari setiap perangkat modern. Saat biaya produksinya melonjak, dampaknya akan langsung menjalar ke ponsel, laptop, konsol game, router, dan server AI,” ujar Mark Vena, CEO SmartTech Research.
Tekanan harga diprediksi pertama kali terasa pada produk dengan margin tipis, seperti PC, aksesori, router, ponsel Android kelas menengah, dan smartphone dengan desain mesin kompleks seperti layar lipat. Vena menambahkan bahwa meskipun perusahaan besar seperti Apple memiliki sumber daya besar, mereka tetap tidak dapat menyingkirkan gangguan pasokan bahan baku.
Proyeksi Jangka Pendek
Untuk jangka pendek, beberapa eksekutif industri menilai harga perangkat flagship kemungkinan masih relatif stabil. CEO Goji Mobile, Thad Hwang, memperkirakan konsumen tidak akan langsung melihat kenaikan harga eceran untuk perangkat seperti flagship dalam beberapa bulan ke depan, namun efek lanjutan dapat muncul pada musim gugur.
Profesor Sridhar Tayur dari Carnegie Mellon University menegaskan pilihan produsen saat ini terbatas karena kapasitas pabrik pengganti di negara lain belum memadai. “Jika barangnya memang tidak ada, tidak banyak yang bisa dilakukan oleh pabrikan dalam menghadapi kelangkaan ini,” ujarnya.
Ikuti Jurnal Indonesia
