DKI Jakarta, Ekonomi dan Bisnis

Pedagang di Balai Kota Ingin Diperhatikan Juga Seperti PKL Tanah Abang

Suasana tempat berjualan masakan khas Betawi di Balai Kota DKI Jakarta di era Gubernur Basuki T. Purnama, Minggu, 22 November 2015. (Foto: Poskota)

Jurnalindonesia.co.id – Sejumlah pedagang yang masih bertahan menggelar dagangannya setiap akhir pekan di Balai Kota DKI Jakarta mengeluhkan menurunnya jumlah kunjungan warga.

Mereka merasa tidak diperhatikan, dan membandingkannya dengan para pedagang kaki lima (PKL) di Tanah Abang, Jakarta Pusat.

“Yang di Tanah Abang diperhatikan, kami yang di Balai Kota kok tidak,” kata salah seorang pedagang bernama Kenton, Minggu (11/3/2018).

Para pedagang berharap ada program untuk meramaikan Balai Kota seperti di era gubernur sebelumnya.

“Kalau saya ibaratkan kok gajah di depan mata tidak nampak,” ujarnya.

Kenton mengaku siap seandainya Pemprov DKI merelokasi para pedagang ke tempat lain yang lebih strategis.

“Atau Pak Sandi itu kan punya program Ok Oce. Kami sebetulnya mau. Tapi kami kan masih UMKM binaan Pemprov jadi saya bertahan di sini karena menjaga hubungan baik saja. Kalau mikirin keuntungan ya sangat kecil,” katanya.

Suasanga tempat berjualan masakan khas Betawi di Balai Kota DKI Jakarta, Minggu (11/3/2018). (Foto: Kompas.com/Sherly Puspita)

Baca juga: Pintu Balai Kota Ditutup Rapat, Warga Kapuk Poglar Kecewa Tak Ditemui Anies

Hal serupa diungkapkan Yanti, pedagang yang mengaku sudah berjualan makanan khas Betawi selama tiga tahun di Balai Kota DKI.

“Beberapa bulan yang lalu Pak Sandi pernah beli makan di sini. Beliau bilang mau meramaikan Balai Kota, tapi sampai sekarang ya masih seperti ini,” kata Yanti.

Ia mengaku penghasilannya merosot setelah wisata Balai Kota tidak lagi digaungkan seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Dulu itu saya jualan di sini sehari dapat Rp 2 juta. Sekarang mau mengejar Rp 300.000 saja susah. Siapa juga yang mau beli di sini,” kata Yanti yang merupakan anggota binaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) DKI Jakarta.

Perempuan asal Jakarta Utara itu mengaku tidak diberikan kejelasan terkait kelanjutan wisata Balai Kota.

“Saya bertahan di sini karena saya tidak tahu apakah wisata itu masih atau tidak, belum ada arahan Pemprov DKI,” ujarnya.

Pedagang masakan khas Betawi di Balai Kota DKI Jakarta, Minggu (11/3/2018). (Foto: Kompas.com/Sherly Puspita)

Beberapa bulan lalu Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno sempat mengakui wisata Balai Kota mengalami penurunan pengunjung.

Dia menyatakan akan mencari cara untuk meramaikan kembali tempat wisata tersebut. Salah satunya dengan meningkatkan promosi serta mendorong sekolah negeri dan swasta berwisata ke kantornya itu. Dia juga ingin menggandeng komunitas yang bisa menceritakan sejarah Jakarta.

Baca juga: Gaya Sandi Pakai Helm di Balai Kota Bikin Ngakak Wartawan

Berita lainnya