Jurnal Indonesia — Sergey Brin, salah satu pendiri Google, mengaku sempat kehilangan arah dan merasa kurang terasah secara intelektual setelah pensiun dari tugas-tugas teknik di perusahaannya.
Meskipun memiliki kekayaan yang telah mencapai sekitar Rp 4.512 triliun, Brin memilih kembali aktif dan kembali ke laboratorium riset untuk terlibat lagi dalam pengembangan teknologi kecerdasan buatan.
Brin pensiun sekitar satu bulan sebelum pandemi COVID-19 dengan rencana mempelajari ilmu fisika. Namun, ia mengatakan rutinitas yang hilang membuatnya merasa kehilangan ruang stimulasi teknis.
Ketika perusahaan mulai membuka kantor secara terbatas, Brin kembali hadir dan akhirnya terlibat dalam pengembangan model Gemini AI, yang menurutnya memberi kepuasan tersendiri.
Evaluasi Terhadap Perjalanan Investasi AI
Brin juga mengevaluasi perjalanan investasi Google di bidang AI. Ia menilai perusahaan sempat bersikap kurang agresif setelah merilis riset Transformer pada 2017, teknologi yang kini menjadi fondasi model bahasa besar.
Menurut Brin, sikap kehati-hatian internal memperlambat peluncuran chatbot karena kekhawatiran soal akurasi, sementara pesaing seperti OpenAI bergerak lebih cepat dan mendorong adopsi AI generatif secara luas.
Refleksi Kesalahan Masa Lalu
Brin menyebutkan salah satu langkah yang menurutnya kurang tepat pada masa lalu, yakni proyek Google Glass. “Semua orang mengira mereka adalah Steve Jobs berikutnya. Aku juga pernah melakukan kesalahan itu,” ujarnya pada Rabu (24/6/2026).
Meski demikian, ia menilai Google tetap memiliki keunggulan karena investasi jangka panjang pada riset jaringan saraf, pengembangan chip khusus, dan pusat data berskala global.
Brin menegaskan hanya sedikit perusahaan yang mampu mengoperasikan seluruh rantai teknologi AI, mulai dari riset hingga infrastruktur komputasi.
Status Kekayaan
Keunggulan dalam pengembangan AI turut menempatkan Sergey Brin bersama Larry Page sebagai pendiri Google yang memiliki kekayaan besar. Saat ini Brin tercatat sebagai orang terkaya ketiga di dunia dengan kekayaan sekitar USD 253,5 miliar atau setara Rp 4.512 triliun.
Ikuti Jurnal Indonesia
