Mancanegara

Penerbangan Internasional Komplain Suara Musik Dangdut dari Radio Nelayan Indonesia

Ilustrasi pesawat

Jurnalindonesia.co.id – Penerbangan Indonesia banyak mendapatkan komplain dunia internasional. Komplain paling banyak disampaikan para pilot asing soal lagu-lagu dangdut yang diputar para nelayan.

Suara musik di radio yang diputar oleh nelayan di tengah laut ternyata terdengar oleh para pilot maskapai asing. Suara lagu-lagu itu dianggap mengganggu penerbangan pesawat yang berpotensi membahayakan keselamatan.

Wakil Direktur Jenderal Sumber Daya Dan Perangkat Pos dan Informatika, Kementrian Komunikasi dan Informatika (SDPPI) Kemkomimnfo, Sadjan, mengatakan bahwa persoalan ini menjadi permasalahan internasional.

“Kita dapat komplain dari penerbangan luar negeri, misalnya dari Amerika dan sebagainya. Saat pesawat-pesawat mereka melalui udara Indonesia, sering mendengar lagu-lagu yang disetel nelayan saat menangkap ikan di laut yang menyetel radio yang iramanya lagu-lagu Dangdut,” ujar Sadjan dalam kunjungannya di Balai Monitoring Kelas I Yogyakarta, Jumat (24/8/2018).

Suara lagu-lagu itu terdengar oleh pilot pada saat pesawat akan mendarat. Hal ini menjadi gangguan bagi para pilot yang jika tidak diatasi bisa menyebabkan kecelakaan. Untuk mengatasi gangguan frekuensi ini, pihaknya kerjasama dengan Kementerian Perikanan dan Kelautan dengan memberikan pemahaman agar radio nelayan itu tersertifikasi dan terstandarisasi agar penggunaan ijin frekuesninya jelas.

Ditemui terpisah, Kepala Subdirektorat Monitoring Dan Penertiban Pos Dan Informatika, Irawati Tjipto Priyanti, menyebut situs perdagangan online menjadi pintu masuk jual beli alat telekomunikasi tidak tersertifikasi. Alat telekomunikasi yang jelas dilarang diperdagangkan ternyata juga diperjualbelikan secara online seperti jammer dan repeater (penguat sinyal).

“Bahayanya alat perangkat telekomunikasi juga diperjualbelikan di situ dengan mudahnya, jammer yang fungsinya pengganggu itu dilarang diperdagangkan bahkan diiklankan,” kata Irawati pada acara ‘Cerdas Memanfaatkan Frekuensi’ di Hotel Harper Yogyakarta, Jumat (24/8/2018).

Jammer hanya diizinkan penggunanya untuk hal yang sangat penting seperti keamanan kenegaraan dan penggunaanya pun tetap menggunakan izin. Selain perangkat telekomunikasi jammer, repeater (penguat sinyal) ternyata juga diperdagangkan bebas secara online.

“Padahal repeater hanya boleh diperdagangkan distributor yang telah memiliki jaringan kerjasama dengan operator selular. Perdagangan online menjadi pintu masuk yang sangat mudah perangkat komunikasi yang tidak bersertfikat,” katanya.

Pihaknya telah melakukan penertiban dengan meminta situs perdagangan online tidak memperjualbelikan perangkat tersebut. Hasil monitoring pada 2017, terdapat 1.256 transaksi perangkat komunikasi bersertifikat melalui pasar online, sedangkan sebanyak 1.239 transaksi atau hampir 50% tidak bersertifikasi.

Perangkat telekomunikasi yang tidak bersertifikat adalah pelanggaran sehingga harus ditertibkan. Padahal, bahkan yang sudah bersertifkat, perangkat telekomunikasi juga harus dipergunakan sesuai persyaratan yang sudah ditetapkan.

DETIKCOM

Loading...

Tulis pendapat anda