Jurnal Indonesia — Jakarta — Sejumlah pemimpin perusahaan teknologi besar memperkirakan masa kejayaan smartphone akan bergeser ke perangkat wearable, terutama kacamata pintar berbasis augmented reality (AR).
Mereka menilai perubahan kebiasaan pengguna—yang mulai jenuh menatap layar datar—membuka peluang bagi bentuk perangkat baru yang memungkinkan interaksi lebih natural dan hands-free.
Evan Spiegel, CEO Snap, menyatakan konsumen kini lelah menatap layar ponsel dan bisa bersedia membayar lebih untuk pengalaman AR yang berbeda. “Hampir 20 tahun sejak peluncuran iPhone, orang-orang kini siap memandang teknologi komputasi dengan cara berbeda,” ujar Spiegel.
Spiegel memperkenalkan Specs, kacamata AR pertama dari Snap yang ditujukan untuk pasar luas. Produk itu dipatok seharga USD 2.195 dan direncanakan mulai dikirim akhir tahun ini ke Amerika Serikat, Inggris, dan Prancis.
Alasan Pergeseran
Menurut Spiegel, kacamata AR menawarkan cara baru menikmati teknologi secara bersama-sama dengan melihat ke depan melalui lensa tembus pandang, bukan menunduk pada layar gelap. Ia menyebut beberapa alasan perubahan perilaku, antara lain rasa lelah leher akibat terus menunduk dan perasaan melewatkan momen sehari-hari.
CEO Qualcomm Cristiano Amon juga menilai kacamata pintar berpotensi menjadi pesaing serius smartphone. Menjamurnya agen AI dan perubahan cara penggunaan aplikasi dinilai dapat mengubah interaksi pengguna dengan perangkat.
“Ponsel akan berpusat di sekitar agen. Kelas perangkat yang baru juga akan berpusat pada agen. Dan agen inilah yang akan memahami niat manusia dan akan melakukan banyak hal untuk Anda, jadi ada pergeseran mengenai apa yang menjadi titik pusatnya,” kata Amon. Ia menambahkan ponsel tidak akan menghilang sepenuhnya.
Amon menyebut pengiriman kacamata pintar saat ini mencapai puluhan juta per tahun, dan memproyeksikan jumlah itu bisa meningkat menjadi ratusan juta dalam beberapa tahun, mendekati skala pasar ponsel.
Visi Meta
Prediksi serupa datang dari Mark Zuckerberg, CEO Meta. Dalam visinya untuk satu dekade ke depan, perangkat wearable disebutnya dapat menggantikan ponsel pintar, memberi kebebasan lebih bagi pengguna dan mengurangi waktu menatap layar.
“Miliaran orang mengenakan kacamata atau lensa kontak untuk mengoreksi penglihatan. Dan saya rasa kita sedang berada di momen yang mirip dengan saat ponsel pintar pertama kali muncul,” ujar Zuckerberg. “Sulit membayangkan dunia beberapa tahun lagi di mana sebagian besar kacamata yang dikenakan orang bukanlah kacamata AI.”
Ketiga pemimpin itu sepakat bahwa walau smartphone mungkin tidak langsung hilang, fase adopsi perangkat wearable seperti kacamata pintar dapat mengubah titik pusat komputasi personal dan cara pengguna berinteraksi dengan teknologi.
Ikuti Jurnal Indonesia
