Jurnal Indonesia — JAKARTA – Presiden UEFA, Aleksander Ceferin, dilaporkan tidak menghadiri pertandingan final Piala Dunia 2026 yang digelar di New Jersey Stadium. Keputusan ini diambil sebagai bentuk kekecewaan mendalam terhadap FIFA.
Meskipun sempat hadir pada upacara pembukaan di Mexico City, Meksiko, Ceferin memilih untuk absen pada laga puncak yang mempertemukan Spanyol melawan Argentina. Laporan dari The Times menguraikan beberapa alasan utama di balik boikot tersebut, yang mencakup dugaan pelanggaran aturan sepak bola dan hilangnya integritas FIFA sebagai badan sepak bola dunia.
Salah satu poin kekecewaan terbesar UEFA adalah keputusan FIFA menangguhkan kartu merah yang diterima Folarin Balogun, striker tim nasional Amerika Serikat, pada babak 16 besar. Penangguhan kartu merah tersebut memungkinkan Balogun untuk tetap bermain di babak selanjutnya. Intervensi yang diduga berasal dari Gedung Putih, pemerintahan Donald Trump, disebut-sebut menjadi faktor di balik keputusan mendadak FIFA ini, meskipun FIFA mengklaim keputusan tersebut diambil oleh panel independen.
UEFA secara tegas menyatakan bahwa tindakan tersebut telah melewati batas dan merusak integritas sepak bola. Perbedaan pandangan antara UEFA dan FIFA, khususnya terkait sikap Presiden FIFA Gianni Infantino, menjadi pemicu ketegangan.
UEFA juga menunjukkan sikap berbeda terkait hilangnya kekuatan FIFA atas tuan rumah Amerika Serikat dalam hal aturan imigrasi. Respons UEFA terhadap penolakan wasit asal Somalia, Omar Artan, untuk bertugas di Amerika Serikat adalah dengan menunjuknya memimpin pertandingan Piala Super Eropa antara Paris Saint-Germain melawan Aston Villa pada Agustus mendatang.
Perombakan aturan teknis permainan oleh FIFA juga menjadi sumber kekecewaan UEFA. Penerapan jeda minum atau ‘hydration break’ yang mengubah pertandingan menjadi empat kuarter dinilai mengganggu alur permainan demi keuntungan finansial dari iklan. UEFA bahkan mengkritik jeda pertandingan di final yang mencapai hampir setengah jam, melebihi batas istirahat 15 menit yang seharusnya.
Selain itu, UEFA menyatakan keberatan atas penerapan harga tiket yang dianggap terlalu tinggi oleh FIFA. Kebijakan kenaikan harga dinamis membuat harga tiket melambung drastis, menyulitkan penggemar untuk menonton langsung. Sebagai perbandingan, UEFA menegaskan bahwa harga tiket untuk Euro 2028 akan tetap terjangkau, berkisar antara 30 hingga 60 paun, dan tidak akan menerapkan kenaikan harga dinamis.
Lebih lanjut, UEFA disebut menolak proposal Infantino untuk menambah jumlah peserta Piala Dunia 2030 menjadi 64 tim. Proposal FIFA ini ditolak mentah-mentah oleh Ceferin.
Dalam pertandingan final Piala Dunia 2026, Spanyol berhasil meraih gelar juara dunia keduanya setelah mengalahkan Argentina 1-0 melalui gol emas Ferran Torres pada menit ke-113. Kemenangan ini sekaligus melengkapi gelar Euro 2024 yang diraih La Furia Roja sebelumnya.
Ikuti Jurnal Indonesia
