Mancanegara

Sekitar Setengah Juta Warga AS Turun ke Jalan Tuntut Pengetatan Kepemilikan Senjata Api

Warga Amerika Serikat dan para selebriti turun ke jalan ikut dalam gerakan bertajuk March for Our Lives Rally
Warga Amerika Serikat dan para selebriti turun ke jalan ikut dalam gerakan bertajuk March for Our Lives Rally, Sabtu (24/3/2018) di Washington, DC. (AFP/Shannon Finney)

Jurnalindonesia.co.id – Diperkirakan sekitar setengah juga warga Amerika Serikat (AS) memadati jalan-jalan utama sejumlah kota menyerukan aturan pengetatan kepemilikan senjata api.

Gerakan bertajuk ‘The March For Our Lives’ atau ‘Pawai untuk Hidup Kami’ bermunculan di pesisir timur AS dan menyebar hingga pesisir barat.

Di Washington DC, kerumunan massa yang sebagian besar merupakan remaja dan anak-anak, berkumpul di sepanjang Pennsylvania Avenue dengan membawa berbagai poster bertuliskan “Lindungi anak-anak, bukan senjata api” serta “Apakah saya berikutnya?”.

Demonstrasi diisi dengan orasi yang diselingi penampilan sejumlah penyanyi, seperti Ariana Grande dan Miley Cyrus.

Orasi pemimpin pelajar sekaligus penyintas penembakan di Parkland, Emma Gonzalez, juga turut serta dalam aksi tersebut dan berorasi.

Setelah menyebutkan nama-nama korban penembakan, Gonzalez berdiam diri di panggung yang didirikan di depan gedung Kongres AS selama enam menit dan 20 detik, yang sama dengan durasi penembakan di Parkland.

Emma Gonzalez

Emma Gonzalez, pemimpin gerakan pelajar sekaligus penyintas penembakan di Parkland, berdiam diri selama enam menit dan 20 detik untuk mengenang para korban tewas dalam penembakan. (Foto: Reuters)

“Kami akan terus berjuang demi teman-teman kami yang meninggal dunia,” kata Delaney Tarr, pelajar SMA di Parkland yang turut berorasi.

Aksi tersebut juga melibatkan anak-anak sekolah lainnya, seperti Naomi Wadler, pelajar berusia 11 tahun dari Virginia.

“Saya hadir di sini untuk mewakili para anak Afrika-Amerika yang kisahnya tidak masuk tajuk utama surat kabar,” ucapnya.

Awal mula protes

Aksi protes ini mengemuka setelah 17 orang tewas dalam penembakan di sebuah sekolah menengah atas di Parkland, Florida, pada 14 Februari lalu. (Baca: Dikeluarkan dari Sekolah, Murid Ngamuk dan Tembak Belasan Siswa)

Ratusan ribu orang, dari Washington DC, New York, hingga Los Angeles, turut dalam 'Pawai untuk Hidup Kami' yang menuntut pengetatan kepemilikan senjata api.

Ratusan ribu orang, dari Washington DC, New York, hingga Los Angeles, turut dalam ‘Pawai untuk Hidup Kami’ yang menuntut pengetatan kepemilikan senjata api. (Getty Images)

Setelah insiden tersebut, para penyintas menggelar demonstrasi menuntut pengetatan kepemilikan senjata api yang kemudian memicu gelombang aksi serupa di kota-kota lain.

Pada 14 Maret lalu, misalnya, sejumlah pelajar dan karyawan sekolah di berbagai kota di AS menghentikan sementara kegiatan belajar-mengajar untuk menuntut reformasi kepemilikan senjata api.

Akhir pekan ini lebih dari 800 demonstrasi sejenis akan diadakan di Amerika Serikat dan kota-kota lain di dunia, termasuk Edinburgh, London, Jenewa, Sydney, dan Tokyo.

Seberapa besar sokongan kepada para demonstran?

Meskipun demonstrasi reformasi kepemilikan senjata api mampu mendatangkan ratusan ribu simpatisan, topik ini masih membelah AS.

Hak memiliki senjata dilindungi Amendemen Kedua Konstitusi AS dan kelompok lobi prosenjata National Rifle Association (NRA) masih snagat berpengaruh.

Loading...

Pada Sabtu (24/3/2018) sore, Gedung Putih merilis pernyataan yang memuji tindakan banyak anak muda pemberani AS menggunakan hak Amendemen Pertama.

Gedung Putih juga menegaskan telah melakukan sejumlah langkah untuk menangani kekerasan bersenjata, seperti:

-Melarang penggunaan bump stock (perangkat yang meningkatkan kemampuan senapan semi-otomatis)

-Membentuk Kesepakatan STOP Kekerasan di Sekolah.

-Meningkatkan pelatuhan untuk pelajar, sekolah, dan aparat keamanan setempat.

-Memperbaiki arsip latar belakang kriminal sehingga calon pembeli senjata diperiksa secara patut sebelum membeli.

Kendati demikian, para demonstran kecewa lantaran Presiden Donald Trump, yang berada di resor Mar-a-Lago di Florida selama akhir pekan ini, tidak merilis satu cuitan pun yang mendukung demonstrasi di Twitter.

Langkah lain setelah insiden di Parkland

Negara Bagian Florida meloloskan undang-undang pengendalian senjata yang meningkatkan batas usia calon pembeli senjata. UU itu juga memberi wewenang kepada staf sekolah untuk membawa senjata api.

NRA menuntut negara bagian dengan dalih UU itu tidak konstitusional.

Setelah insiden di Parkland, sejumlah perusahaan besar memutus hubungan dengan NRA di tengah kemunculan tagar #BoycottNRA di media sosial.

Kemudian perusahaan Walmart dan Dick’s Sporting Goods mengumumkan batas-batas baru bagi pembelian senjata api.

Berdasarkan jajak pendapat yang dilakukan Associated Press dan the NORC Center for Public Affairs Research, sebanyak 69 persen warga Amerika menghendaki UU yang mengatur senjata api harus diperketat. Persentase itu meningkat dari Oktober 2016, sebanyak 61 persen.

BBC Indonesia

Loading...

Tulis pendapat anda