Jurnal Indonesia — JAKARTA – Mantan Presiden FIFA, Sepp Blatter, secara terbuka menyatakan keinginannya agar Gianni Infantino diganti dari jabatannya sebagai Presiden FIFA. Blatter menilai kepemimpinan Infantino di bawah Piala Dunia 2026 telah menimbulkan sejumlah kontroversi yang menggerus kredibilitas organisasi sepak bola dunia tersebut.
Piala Dunia 2026 yang baru saja rampung dengan Spanyol keluar sebagai juara, diwarnai oleh berbagai isu kontroversial sepanjang penyelenggaraannya. Keputusan Presiden FIFA, Gianni Infantino, untuk memperkenalkan ‘hydration breaks’ atau jeda minum menjadi salah satu sorotan utama. Jeda ini diduga kuat memiliki motif komersial, terutama dengan adanya kesempatan penayangan iklan saat jeda tersebut.
Selain itu, FIFA juga mendapat kritik tajam terkait penetapan harga tiket Piala Dunia 2026 yang dianggap terlalu mahal, memicu tudingan bahwa organisasi tersebut terlalu berorientasi pada keuntungan finansial. Kontroversi lain muncul ketika FIFA menangguhkan hukuman kartu merah bagi penyerang Amerika Serikat, Folarin Balogun. Keputusan ini dilaporkan diambil setelah Presiden AS, Donald Trump, melakukan panggilan telepon kepada Infantino, yang memungkinkan Balogun tetap bermain di laga 16 besar meskipun seharusnya menjalani sanksi larangan bermain.
Rangkaian kontroversi ini telah menempatkan Gianni Infantino di bawah sorotan publik dan memunculkan tekanan dari berbagai pihak agar ia lengser dari jabatannya. Sepp Blatter, yang pernah memimpin FIFA selama 17 tahun sebelum mengundurkan diri pada 2015 akibat skandal korupsi, kini menjadi salah satu suara yang menyerukan perubahan kepemimpinan.
Blatter berpendapat bahwa FIFA membutuhkan sosok pemimpin baru untuk mengembalikan organisasinya ke jalur yang benar. Ia secara spesifik mengkritik Infantino karena dianggap telah mencampurkan urusan politik ke dalam dunia sepak bola. “Piala Dunia terpanjang telah berakhir – dengan juara yang tepat,” tulis Blatter di media sosialnya. “Namun dalam perjalanan menuju peluit akhir, turnamen ini telah kehilangan kredibilitasnya,” lanjutnya, dikutip dari AS.
Lebih lanjut, Blatter menekankan pentingnya sepak bola dikembalikan pada akarnya. “Politik tidak boleh dibiarkan membayangi permainan. Sekarang terserah kepada para penggemar, pemain, dan asosiasi nasional untuk merebut kembali sepak bola dan mengembalikannya ke akarnya di bawah kepemimpinan baru,” tegasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.