Jurnal Indonesia — Tools for Humanity, perusahaan di balik proyek kripto dan pemindai mata World (sebelumnya Worldcoin), dilaporkan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap sejumlah karyawan. Langkah itu diambil setelah perusahaan menghadapi kesulitan meyakinkan regulator soal keamanan data dan belum mampu membuktikan jalur pendapatan yang berkelanjutan.
Pengumuman pemangkasan disampaikan kepada karyawan lewat email internal dari tim sumber daya manusia pada Senin lalu. Perusahaan menyatakan perubahan peran dan tim perlu dilakukan sebagai bagian dari pergeseran strategi dan prioritas operasional; rincian lebih lanjut akan dibahas dalam pertemuan town hall yang dijadwalkan berlangsung Rabu (10/6/2026).
PHK dan Alasan Perusahaan
Belum ada konfirmasi jumlah pasti karyawan yang terdampak. Sebagai konteks, Tools for Humanity diketahui mempekerjakan lebih dari 500 orang dan pernah memiliki valuasi sekitar USD 2,5 miliar setelah menerima pendanaan dari investor besar.
Memo internal menyebutkan kebutuhan penyesuaian organisasi untuk menyesuaikan prioritas operasional. Perubahan ini terjadi di tengah upaya perusahaan menghadapi sorotan terkait pengelolaan data biometrik dan model bisnis yang dinilai belum terbukti.
Teknologi Orb dan Tantangan Adopsi
Produk paling dikenal dari perusahaan ini adalah perangkat keras bernama “Orb” yang digunakan untuk memindai iris mata dan menghasilkan World ID. Identitas digital itu dirancang untuk membedakan pengguna manusia dari bot, dan pengguna yang bersedia dipindai mendapat imbalan berupa mata uang kripto WLD.
Meskipun konsepnya futuristis, perusahaan kesulitan meyakinkan publik untuk menyerahkan data biometrik yang sangat personal. Target ambisius perusahaan untuk mencapai 1 miliar pengguna terverifikasi pada November lalu masih jauh dari tercapai; capaian aktual belum menyentuh 2% dari target tersebut.
Tekanan Regulasi dan Arah Bisnis
Tools for Humanity juga menghadapi penyelidikan dan pembatasan operasi di beberapa negara di Asia, Amerika Selatan, dan Eropa karena kekhawatiran privasi data biometrik. Kondisi itu memaksa perusahaan harus terus menjelaskan cara penyimpanan dan pengelolaan data iris kepada regulator dan publik.
Dari sisi bisnis, perusahaan dilaporkan sulit menunjukkan bagaimana Orb bisa menjadi sumber pendapatan yang berkelanjutan. Meski begitu, perusahaan masih beroperasi di Amerika Serikat sejak memperkenalkan teknologinya di pasar itu pada Mei 2025 dan tengah mengalihkan fokus ke penawaran verifikasi bisnis-ke-bisnis (B2B), dengan beberapa pengumuman kemitraan baru-baru ini bersama platform seperti Tinder, Zoom, dan Docusign.
Perkembangan lebih lanjut dijanjikan akan diungkap dalam pertemuan internal yang dijadwalkan. Sampai saat itu, keputusan restrukturisasi dan upaya mencari model bisnis yang lebih bisa diterima regulator menjadi fokus utama perusahaan.
Ikuti Jurnal Indonesia
