Jurnal Indonesia — WOLVERHAMPTON – Sesi latihan Wolverhampton Wanderers terpaksa dibatalkan oleh pelatih Cesar Peixoto pada Senin (20/7/2026) setelah striker Tolu Arokodare menolak untuk meninggalkan lapangan. Pemain yang tidak lagi masuk rencana tim ini mendesak manajemen klub untuk melepasnya ke Fiorentina, dengan Torino dan Genoa juga dikabarkan tertarik.
Menurut laporan media lokal seperti Daily Mail dan BBC, Arokodare memilih duduk di lapangan dan menyatakan keinginannya untuk pindah ke klub Italia. Namun, pihak klub telah menolak tawaran dari klub Serie A tersebut dan memilih untuk menjual pemain asal Nigeria itu ke Trabzonspor. Atas insiden tersebut, Peixoto, yang sebelumnya meminta Arokodare tidak ikut latihan tim utama, akhirnya memutuskan untuk membatalkan seluruh sesi latihan.
Wolverhampton kini dilaporkan memperketat pengamanan di markas latihan mereka di Compton Park untuk mencegah Arokodare memasuki area tersebut. Hingga kini, belum ada pernyataan resmi dari pihak klub mengenai insiden yang terjadi.
Arokodare, yang berusia 25 tahun, bergabung dengan Wolves dari Genk pada musim panas 2025. Namun, kontribusinya minim, hanya mencetak tiga gol saat Wolves terdegradasi dari Premier League musim lalu. Ia juga sempat mendapat hukuman disiplin pada April lalu akibat konfrontasi dengan rekan setimnya, Mateus Mane.
Cesar Peixoto sendiri baru ditunjuk sebagai pelatih Wolves pada bulan Juni dan memiliki tugas untuk membawa klub promosi kembali ke Premier League.
Menanggapi situasi tersebut, Arokodare angkat bicara melalui media sosialnya pada Rabu (22/7). “Sepanjang karier saya, saya selalu sangat bangga dalam berperilaku profesional dan mempertahankan standar pelatihan tertinggi,” tulisnya. “Komitmen saya selalu untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin sehingga saya dapat berkontribusi kepada rekan satu tim dan klub setiap kali saya dibutuhkan.”
Ia menambahkan, “Saya masih terikat kontrak dengan Wolves, dan satu-satunya niat saya adalah untuk memenuhi tanggung jawab saya secara profesional dengan berlatih, melakukan pekerjaan saya, dan berkontribusi kepada tim sesuai dengan kontrak tersebut.”
Perlu dicatat bahwa dalam aturan baru FIFA, mengasingkan pemain dari tim utama atau memaksa mereka berlatih terpisah kini dinilai sebagai praktik yang abusif. Kecuali ada alasan olahraga yang masuk akal, tindakan tersebut dapat berakibat denda dan hukuman lainnya. Mengasingkan seorang pemain tidak lagi dapat dijadikan taktik untuk memaksa pemain pergi, sebagaimana yang kerap terjadi selama bursa transfer musim panas dalam beberapa tahun terakhir.
Ikuti Jurnal Indonesia
