Kriminal

Video Persekusi Biksu di Legok Bikin Gaduh, Polisi Buru Penyebarnya

Jurnalindonesia.co.id – Polisi memburu penyebar video pengusiran tokoh Agama Budha, Biksu Mulyanto Nurhalim, di Legok, Kabupaten Tangerang.

Video yang memperlihatkan biksu Mulyanto diusir dari tempat tinggalnya di Kampung Kebon Waru, Desa Babat, Kecamatan Legok, oleh sekelompok orang tersebut viral dan menjadi perbincangan luas di media sosial selama beberapa hari terakhir.

“Kami ingin mengklarifikasi tujuan dan maksudnya dia menyebar video itu apa,” kata Kepala Polsek Legok Ajun Komisaris Murodih, sebagaimana dikutip dari Tempo, Minggu (11/2/2018).

Murodih menyesalkan rekaman video persekusi tersebut menyebar justru setelah situasi dan kondisi di lingkungan tempat tinggal Biksu Mulyanto sudah kondusif. Kesalahpahaman antara Biksu Mulyanto dan warga telah diselesaikan dengan baik.

Baca: Viral Video Biksu Dilarang Beribadah dan Diusir, Polisi: Hanya Salah Paham Saja

Murodih menjelaskan, musyawarah sudah digelar antara Muspida (Musyawarah Pimpinan Daerah) Kabupaten Tangerang dan Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) Legok serta para tokoh lintas agama pada Rabu, 7 Februari 2018 di Kantor Kecamatan Legok.

Musyawarah itu menghasilkan keputusan:

1. Biksu Mulyanto Nurhalim adalah warga asli Desa Babat dan sudah memiliki KTP dan memiliki hak tinggal di Desa Babat.

2. Di kediaman Biksu Mulyanto Nurhalim sering dikunjungi umat Budha dari luar Kecamatan Legok, terutama pada hari Sabtu dan Minggu, untuk memberikan makan kepada Biksu Mulyanto sekaligus minta didoakan. Mereka bukan melaksanakan kegiatan ibadah. Kegiatan itu dimaklumi karena biksu tidak boleh memiliki uang dan membeli makanan sendiri.

3. Rumah Biksu Mulyanto Nurhalim dipastikan sebagai tempat tinggal bukan rumah ibadah umat Budha seperti yang dicurigai sekelompok warga.

4. Ornamen, seperti patung, di rumah Biksu Mulyanto yang menyerupai peralatan kegiatan ibadah umat Budha disingkirkan agar tidak dicurigai warga.

5. Peserta musyawarah sepakat menyatakan permasalahan selesai dan saling menyadari kesalahan kemudian saling memaafkan.

Bahkan warga yang menolak Biksu Mulyanto pun sudah mendatangi kediamannya, dua hari sebelum musyawarah tersebut digelar, yakni pada Senin, 5 Februari 2018.

“Tapi isu ini (persekusi Biksu Mulyanto) kembali menjadi ramai setelah video viral di media sosial, padahal di sini semuanya sudah normal,” kata Murodih.

Baca juga: Untuk Kaum Intoleran, Jokowi: Tidak Ada Tempat Bagimu!

Berita lainnya