Jurnal Indonesia — Jakarta — Sejumlah perusahaan besar di industri kecerdasan buatan bersiap menghadapi perubahan signifikan: OpenAI, Anthropic, dan xAI akan memasuki pasar publik. Rencana penawaran umum saham dari ketiganya dipandang sebagai uji terbesar bagi bisnis AI yang kini bernilai sangat besar.
Masuknya ketiga perusahaan ke bursa diperkirakan bakal membuka gambaran lebih jelas tentang kondisi pasar AI saat ini dan berpotensi menghasilkan penjualan saham bernilai ratusan miliar dolar. Namun, transisi ke kepemilikan publik juga berarti pengawasan ketat dan tuntutan pertumbuhan berkelanjutan dari investor Wall Street.
Tekanan Pasar Publik
Nigel Green, CEO firma penasihat keuangan deVere Group, menilai ekspektasi di pasar privat yang relatif terkendali dapat berubah menjadi tekanan intens setelah perusahaan membuka kepemilikan kepada publik. Pernyataan ini menyoroti tantangan yang dihadapi perusahaan teknologi ketika harus memenuhi target pertumbuhan yang seringkali agresif di pasar modal.
Sentimen pasar terhadap saham perusahaan yang berkaitan dengan AI juga memperlihatkan fluktuasi tajam. Contohnya, Broadcom—yang bermitra dengan beberapa pemain AI—melaporkan pertumbuhan pendapatan 48% pada kuartal kedua dan proyeksi pertumbuhan segmen semikonduktor sebesar 180%, namun sahamnya anjlok lebih dari 13% pada periode tersebut.
Risiko Penurunan Valuasi
Pergerakan saham-saham chip AI sebelumnya menunjukkan kerentanan sektor ini terhadap perubahan sentimen investor. Nvidia, sebagai salah satu perusahaan publik paling bernilai, pernah mengalami penurunan nilai pasar besar setelah munculnya pesaing baru.
Dalam konteks ini, OpenAI dan Anthropic diperkirakan akan dinilai dengan tolok ukur serupa: pasar akan mencari bukti keberlanjutan model bisnis dan kapasitas kas untuk mendanai biaya besar di infrastruktur AI.
Data Keuangan dan Pengguna
Perusahaan-perusahaan AI telah mengumumkan angka-angka pertumbuhan yang mencolok. OpenAI menyatakan mengumpulkan dana sebesar USD 122 miliar pada Maret, yang mendorong valuasinya menjadi USD 852 miliar. Perusahaan juga mengklaim pendapatan sekitar USD 2 miliar per bulan, naik dari USD 1 miliar per kuartal sebelumnya.
Di sisi pengguna, ChatGPT tercatat sebagai aplikasi tercepat yang mencapai satu miliar pengguna, sebuah pencapaian yang biasanya memerlukan beberapa tahun bagi aplikasi lain.
Sementara itu, valuasi Anthropic dilaporkan naik dari USD 380 miliar pada Februari menjadi USD 965 miliar pada Mei, dan pada bulan yang sama lebih banyak bisnis diklaim menggunakan layanan Anthropic dibanding OpenAI menurut data perusahaan fintech Ramp.
Pertanyaan Terbuka untuk Manajemen
Langkah menuju IPO bisa diartikan sebagai tanda kepercayaan diri OpenAI dan Anthropic terhadap prospek profitabilitas jangka panjang. Di bawah kepemilikan publik, analis dan pemegang saham diperkirakan akan mempertanyakan CEO terkait rencana masa depan bisnis serta produk yang akan diluncurkan.
Penawaran umum dari OpenAI, Anthropic, dan xAI dipantau ketat karena hasilnya berpotensi memberi dampak besar pada penilaian dan arah industri AI global.
Ikuti Jurnal Indonesia
