Jurnal Indonesia — Kocaeli – Zinedine Zidane mengungkapkan bahwa debutnya sebagai pelatih Timnas Prancis memiliki makna yang lebih mendalam dan emosional dibandingkan saat ia pertama kali memulai karier sebagai pemain. Mimpi besarnya untuk melatih tim nasional Prancis akhirnya terwujud setelah penantian panjang.
Sejak memutuskan mundur dari kursi kepelatihan Real Madrid pada tahun 2021, Zidane memang memilih untuk rehat sejenak dari hiruk pikuk dunia manajerial. Keputusannya ini didasari oleh keinginan kuatnya untuk suatu saat nanti bisa menukangi Timnas Prancis. Setelah bersabar selama lima tahun, keinginannya tersebut akhirnya terwujud ketika ia ditunjuk untuk menggantikan Didier Deschamps.
Pertandingan melawan tuan rumah Turki dalam ajang UEFA Nations League yang dijadwalkan pada Sabtu (26/9/2026) pukul 01.45 WIB akan menandai penampilan perdana Zidane sebagai nakhoda tim yang diperkuat oleh pemain bintang seperti Kylian Mbappe.
Ketika ditanya mengenai perbandingan debutnya kali ini dengan momen pertama kali ia dipanggil untuk memperkuat timnas Prancis sebagai pemain, Zidane memberikan jawaban yang mengejutkan. “Mungkin bahkan lebih (istimewa) dari itu,” ujar pria berusia 54 tahun tersebut pada Kamis (24/9), seperti dikutip dari ESPN.
Zidane menambahkan, “Saya merasakan emosi yang luar biasa saat memimpin tim Prancis ini.”
Selama aktif sebagai pemain, Zidane telah mengukir berbagai prestasi gemilang. Ia berhasil meraih gelar liga bersama Juventus dan Real Madrid. Di klub terakhirnya, ia juga memainkan peran krusial dalam kemenangan Liga Champions dengan mencetak gol penentu di partai final. Di kancah internasional, ia turut membawa Prancis meraih gelar Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000.
Karier kepelatihannya pun tidak kalah cemerlang. Setelah mengasah kemampuan sebagai asisten pelatih di bawah Carlo Ancelotti dan Rafael Benitez di Real Madrid, ia kemudian dipromosikan menjadi pelatih utama pada tahun 2016. Di bawah kepemimpinannya, Real Madrid berhasil memenangkan Liga Spanyol pada tahun 2017 dan meraih tiga gelar Liga Champions berturut-turut dari musim 2016 hingga 2018. Ia sempat mengambil jeda hampir setahun sebelum kembali melatih Madrid pada 2019 dan kembali mempersembahkan gelar Liga Spanyol setahun kemudian.
Dengan rekam jejak yang begitu impresif, tidak mengherankan jika ekspektasi publik terhadap Zidane di Timnas Prancis sangatlah tinggi. Zidane menyadari hal ini dan menyatakan, “Ini sesuatu yang baru. Saya mengambil alih posisi pelatih kepala, jadi orang-orang membicarakannya. Itu wajar.”
Namun, ia menegaskan bahwa sorotan tersebut tidak akan mengganggunya. “Anda harus menerima kenyataan yang ada. Namun, bukan itu tujuan saya di sini. Memenangkan pertandingan adalah hal yang paling menarik minat saya,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.