— Sebanyak 64 penggilingan padi kecil di Indonesia kini telah mampu memproduksi beras dengan emisi karbon yang lebih rendah. Perubahan ini dicapai melalui peralihan energi penggerak mesin dari solar menjadi listrik. Hasil produksi beras ramah lingkungan ini rencananya akan dibeli oleh industri perhotelan, restoran, dan katering (horeka) dengan harga premium.

Pengembangan beras rendah karbon di Indonesia dinilai penting sebagai bagian dari upaya penurunan emisi di sektor pertanian. Namun, langkah ini perlu didukung peningkatan program pendampingan dan kepastian insentif dari pemerintah.

Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Sutarto Alimoeso menyatakan, pelaku usaha penggilingan padi yang tergabung dalam Perpadi sepenuhnya mendukung upaya pemerintah dalam menekan perubahan iklim melalui pengurangan emisi gas rumah kaca dari sektor pertanian.

Perpadi telah aktif mendampingi anggotanya yang bertransisi dari bahan bakar solar ke listrik yang dikelola oleh PT PLN (Persero). “Kami sudah melaksanakan sejak beberapa tahun lalu, melalui kerja sama dengan LSM. Progresnya sangat bagus, dari 150 penggilingan padi, sekarang sudah 64 yang telah ganti ke listrik, itu sudah mengurangi emisi. Kemudian, ada lebih dari 10 penggilingan padi yang masih menunggu (listrik) dari PLN,” ujar Sutarto.

Proyek beras rendah karbon ini dilaksanakan di lima kabupaten yang tersebar di dua provinsi, yaitu Jawa Tengah (Klaten, Boyolali, Sragen) dan Jawa Timur (Ngawi dan Madiun). “Kita sudah ada di lima kabupaten dan telah menjadi contoh. Terus dampaknya apa, banyak (penggilingan padi) provinsi lain yang mengajukan untuk berubah dari diesel ke listrik. Berapa penurunan total emisinya, yang jelas ada pengurangan emisi dari upaya ini,” jelas Sutarto.

Produksi beras rendah karbon dari penggilingan yang beralih ke listrik ini diharapkan dapat dibeli oleh industri horeka. Perpadi berharap pemerintah dapat membuat regulasi dan menetapkan harga khusus untuk beras rendah karbon di masa mendatang. “Ya syukur pemerintah bisa ke sana (harga khusus). Tapi, untuk kegiatan yang kami lakukan tersebut sudah ada kerja sama dengan horeka. Ada horeka yang akan menghargai lebih mahal. Harapannya, tolong pemerintah nanti tinggal atau ikut mendorong agar kerja sama itu bisa terealisasi,” tuturnya.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Zulkifli Hasan sebelumnya pernah menyampaikan bahwa peningkatan efisiensi dan inovasi produksi beras rendah karbon sejalan dengan agenda pemerintah untuk memperkuat kedaulatan pangan dan memenuhi kebutuhan konsumsi nasional. Ia juga menyebutkan bahwa produksi beras nasional diperkirakan mencapai 34,77 juta ton tahun ini, dengan stok dalam negeri yang mencukupi sehingga impor tidak diperlukan.

Sebelumnya, Preferred by Nature bersama Perpadi dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) mengimplementasikan Low Carbon Rice Project di Indonesia. Inisiatif ini didanai oleh Uni Eropa melalui SWITCH-Asia Grants Programme, yang bertujuan mendukung penggilingan padi kecil beralih dari bahan bakar diesel ke listrik serta membangun kemitraan dengan petani untuk produksi beras berkelanjutan.

Distribusi Beras Premium oleh Bulog

Di sisi lain, Perum Bulog terus memperkuat ketersediaan beras premium di pasar konsumen dengan menyalurkan produk serupa melalui jaringan ritel modern di sejumlah kota besar di Indonesia. Langkah ini bertujuan memastikan masyarakat di berbagai kota besar dan wilayah perkotaan dapat memperoleh beras premium dengan mudah.

Distribusi beras premium Bulog telah menjangkau kota-kota besar seperti Jakarta, Makassar, Surabaya, Sidoarjo, Bojonegoro, Semarang, Klaten, Solo, Salatiga, Bandung, Karawang, Subang, dan Kupang. Bulog juga terus berupaya memperluas pasokan beras premium ke berbagai kota lainnya di seluruh Indonesia. “Penguatan pasokan melalui ritel modern ini bagian dari strategi Bulog untuk memperluas akses masyarakat terhadap produk beras premium Bulog,” kata Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani.

Berdasarkan data alokasi penyaluran, Bulog menyiapkan pasokan beras premium hingga 75 ribu ton per bulan untuk sejumlah jaringan ritel modern. Di antaranya adalah PT Indomarco Prismatama, PT Megah Daya, PT Inti Cakrawala Citra, PT Sumber Aleria Trijaya, PT Lion Super Indo, PT Swalayan Sukses Abadi, PT Matahari Putra Prima, PT Tip Top Supermarket, PT Midi Utama Indonesia, dan PT Hero Retail Nusantara.

Rizal menuturkan bahwa penyaluran beras premium Bulog melalui jaringan ritel modern merupakan upaya BUMN tersebut untuk semakin mendekatkan produk pangan kepada masyarakat. “Kami ingin memastikan masyarakat, khususnya di wilayah perkotaan, memiliki akses yang mudah terhadap beras premium. Karena itu, Bulog terus memperkuat distribusi melalui jaringan ritel modern yang tersebar di berbagai kota,” ujar Rizal.