Jurnal Indonesia — JAKARTA – Sebaran abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau dilaporkan telah mencapai wilayah Jabodetabek dan Jawa Barat. Menanggapi kondisi ini, Wali Kota Tangerang Sachrudin mengimbau seluruh warganya untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan. Langkah ini bertujuan untuk mencegah terjadinya Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang dapat dipicu oleh partikel halus abu vulkanik.
Imbauan tersebut disampaikan Sachrudin pada Senin (7/9/2026) di kawasan Tugu Adipura, Kota Tangerang, usai secara langsung membagikan masker kepada masyarakat. Ia menekankan pentingnya masyarakat untuk tetap tenang, tidak panik, serta konsisten menerapkan protokol perlindungan diri dalam rutinitas harian.
Untuk memastikan penanganan dampak abu vulkanik berjalan optimal, Sachrudin telah menginstruksikan seluruh jajaran Pemerintah Kota Tangerang untuk turun langsung ke lapangan. Para pegawai tidak hanya bertugas memberikan imbauan, tetapi juga diharapkan proaktif memantau kebutuhan warga dan memperkuat koordinasi antarperangkat daerah.
Dalam aksi tanggap darurat yang digelar di Tugu Adipura, Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Tangerang turut berpartisipasi dengan membagikan sekitar 2.800 masker jenis KF94 kepada para pengguna jalan dan warga di sekitar lokasi.
Ketua PMI Kota Tangerang, Oman Jumansyah, mengingatkan warga untuk tetap waspada terhadap potensi dampak abu vulkanik, meskipun butiran abu yang sampai di wilayah Tangerang tergolong sangat halus. Selain penggunaan masker, Oman menyarankan warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, menjaga kebersihan tangan, dan mengenakan kacamata pelindung guna mencegah iritasi pada mata.
Dukungan terhadap upaya penanganan ini juga datang dari Wakil Ketua DPRD Kota Tangerang, Turidi Susanto. Ia mendorong penguatan sinergi antara Pemerintah Kota Tangerang, TNI, dan Polri. Kolaborasi ini diharapkan dapat memperlancar penanganan dampak serta distribusi logistik kesehatan, sehingga aktivitas masyarakat dapat tetap berjalan dengan aman.
Abu vulkanik sendiri tersusun atas partikel batuan mikroskopis dan silika halus yang dapat terbawa angin hingga jarak puluhan kilometer dari lokasi kawah erupsi. Ketika terhirup, materi halus ini berpotensi mengiritasi saluran pernapasan dan memicu gangguan kesehatan akut seperti ISPA, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita asma.
Mengingat Kota Tangerang memiliki jarak yang relatif dekat dengan jalur sebaran angin dari Selat Sunda, wilayah ini menjadi salah satu kawasan penyangga yang terdampak hujan abu vulkanik pasca-erupsi Gunung Anak Krakatau. Oleh karena itu, kesiapsiagaan pemerintah daerah melalui pembagian alat pelindung diri dan edukasi protokol kesehatan menjadi langkah krusial untuk menekan angka kesakitan masyarakat di wilayah perkotaan ini.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.