— Masyarakat yang wilayahnya terdampak sebaran abu vulkanik disarankan untuk sementara waktu tidak menggunakan lensa kontak. Dokter spesialis mata Universitas Indonesia, dr. Sesaria Rizky Kumalasari, Sp.M, mengingatkan bahwa penggunaan lensa kontak di tengah paparan abu vulkanik berisiko tinggi memicu gangguan kesehatan mata yang serius, bahkan berpotensi menyebabkan kebutaan.

Imbauan ini dikeluarkan sebagai respons terhadap paparan abu vulkanik yang melanda sejumlah wilayah di DKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, dan Lampung akibat aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Meskipun lensa kontak sering menjadi pilihan praktis untuk menunjang penampilan dan kenyamanan beraktivitas, penggunaannya di lingkungan yang terkontaminasi abu vulkanik menyimpan bahaya terselubung.

Mekanisme Kerusakan Kornea Mata

Sesaria menjelaskan bahwa partikel abu vulkanik berukuran halus dan dapat dengan mudah menempel pada permukaan lensa kontak. Ketika partikel tersebut terperangkap di bawah lapisan lensa yang bersinggungan langsung dengan permukaan mata, setiap pergerakan mata dapat menimbulkan gesekan mekanis.

“Saat menggunakan lensa kontak, abu vulkanik bisa saja menempel di permukaannya sehingga dapat terjebak di bagian dalam lensa kontak yang bersinggungan dengan permukaan mata,” kata Sesaria, yang juga menjabat sebagai Ketua Bidang Pengabdian Masyarakat Non-Katarak di Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia Cabang Jakarta (Perdami Jaya).

Gesekan dari partikel abu yang terperangkap ini berisiko menggores lapisan kornea hingga menimbulkan luka terbuka berukuran mikroskopis. Selain itu, kandungan senyawa kimia sintetis dalam abu vulkanik berpotensi memicu reaksi peradangan lanjutan yang jauh lebih berat pada jaringan mata.

Risiko Infeksi Berat hingga Kebutaan

Luka mikroskopis pada kornea akibat goresan abu vulkanik memberikan jalan masuk bagi mikroorganisme jahat. Lingkungan lembap di bawah lensa kontak yang terkontaminasi menjadi media ideal bagi bakteri untuk berkembang biak secara cepat.

Jika infeksi berkembang menjadi ulkus kornea atau luka bernanah pada kornea, kondisi ini dapat menyebabkan kekeruhan pada kornea. Dalam tingkat keparahan tinggi, kondisi tersebut dapat berujung pada penurunan fungsi penglihatan secara permanen atau kebutaan.

Sebagai langkah pencegahan utama, masyarakat diimbau untuk beralih menggunakan kacamata biasa. Kacamata dinilai jauh lebih aman karena memberikan perlindungan fisik tambahan dari paparan langsung debu vulkanik tanpa menempel pada jaringan sensitif mata.

Gunung Anak Krakatau yang berada di perairan Selat Sunda mencatatkan aktivitas erupsi dengan intensitas letusan tertinggi sepanjang tahun ini, yang berlangsung sejak Jumat (4/9/2026) malam hingga Minggu (6/9/2026) dini hari. Hingga saat ini, status gunung api tersebut berada pada Level III (Siaga).

Hujan abu vulkanik yang terbawa angin hingga ke wilayah pemukiman di Banten, Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Lampung tidak hanya berpotensi mengganggu saluran pernapasan, tetapi juga menimbulkan ancaman langsung pada organ penglihatan. Abu vulkanik terdiri dari kristal silika, batuan tajam, dan bahan kimia berukuran sangat kecil yang bersifat abrasif (mengikis).

Kesadaran masyarakat terhadap mitigasi dampak kesehatan lingkungan, khususnya perlindungan mata bagi pengguna lensa kontak, menjadi krusial untuk mencegah komplikasi infeksi mata dalam skala besar di wilayah terdampak erupsi.