Jurnal Indonesia — Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), memastikan bahwa aktivitas penyeberangan di Selat Sunda, khususnya rute Merak-Bakauheni, beroperasi secara normal selama tiga hari terakhir. Hal ini disampaikan menyusul erupsi Gunung Anak Krakatau yang sempat menimbulkan kekhawatiran.
AHY menjelaskan bahwa berdasarkan diskusi dengan Menteri Perhubungan, tidak ada indikasi peningkatan permukaan air laut yang ekstrem atau sea level rise yang signifikan. Kondisi gelombang laut dilaporkan masih dalam ukuran yang moderat, sehingga pelayaran dan penyeberangan dapat terus dilakukan.
“Secara umum ini masih bisa beroperasi dengan baik karena dari dua-tiga hari terakhir ini tidak diindikasikan terjadi peningkatan permukaan air laut yang sangat ekstrem, sea level rise dan juga gelombang yang masih relatif dalam ukuran yang moderat,” ujar AHY kepada wartawan di Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta, Senin (7/9/2026).
Lebih lanjut, AHY menegaskan bahwa tidak ditemukan adanya potensi tsunami akibat aktivitas vulkanik tersebut. Pelayaran dari Pelabuhan Merak ke Pelabuhan Bakauheni maupun sebaliknya tetap berjalan normal, meskipun demikian, seluruh aktivitas tetap berada di bawah pengawasan ketat demi mengutamakan faktor keselamatan.
“Jadi tidak ada atau tidak ditemukan potensi tsunami. Bisa dikatakan angkanya di bawah 50% sehingga pelayaran masih bisa dilakukan, penyeberangan masih bisa dilakukan. Tapi tentu ini semua dalam pengawasan yang ketat karena sekali lagi kita tidak ingin menomorduakan faktor keselamatan,” ucapnya.
Selain itu, AHY juga mengingatkan masyarakat untuk tetap menjaga kesehatan. Ia menyampaikan bahwa abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau tidak hanya berpotensi memengaruhi sektor penerbangan karena mengandung material silika yang dapat berdampak pada landasan pacu pesawat, tetapi juga dapat memengaruhi kesehatan.
“Dan imbauan dari pemerintah tentunya bagi kita semua untuk tetap menjaga kesehatan karena abu vulkanik bukan hanya berdampak pada sektor penerbangan karena mengandung material silika yang ada,” ujar AHY.
Abu vulkanik tersebut dapat menimbulkan dampak pada mesin pesawat dan operasional landasan pacu. Selain itu, abu vulkanik juga berdampak pada kesehatan masyarakat, terutama bagi kelompok rentan seperti lansia, balita, dan individu dengan riwayat masalah pernapasan.
“Dampak pada mesin termasuk juga operasional landasan pacu, tapi juga bagi kesehatan masyarakat, terutama bagi lansia, balita, dan masyarakat yang memiliki riwayat permasalahan pernapasan,” imbuhnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.