— Kecerdasan buatan (AI) tidak lagi terbatas pada kalangan programmer. OpenAI melaporkan bahwa agen AI seperti Codex semakin populer di kalangan pekerja kantoran (knowledge worker) untuk menangani berbagai tugas harian. Mulai dari pembuatan laporan, presentasi, spreadsheet, hingga pengelolaan data kini dapat dibantu oleh teknologi ini.

Gabriel Chua, DX Engineer OpenAI, menjelaskan bahwa banyak pekerjaan di lingkungan perkantoran memiliki alur yang terstruktur dan cenderung berulang. Kondisi ini memungkinkan agen AI untuk membantu dalam penyusunan, otomatisasi, dan penyempurnaan tugas tanpa memerlukan keahlian khusus di bidang rekayasa perangkat lunak dari penggunanya.

“Pembuatan laporan, spreadsheet, presentasi, peninjauan kontrak, pengisian dashboard, hingga proses internal lainnya umumnya mengikuti alur yang berulang. Di sinilah agen AI seperti Codex dan ChatGPT Work dapat membantu memetakan alur tersebut agar lebih mudah ditinjau, digunakan kembali, dan disempurnakan,” ujar Gabriel kepada detikINET.

Saat ini, Codex dan ChatGPT Work telah memiliki lebih dari 7 juta pengguna aktif mingguan secara global. OpenAI mencatat lebih dari satu juta orang menggunakan Codex untuk pekerjaan di luar pengembangan perangkat lunak, termasuk membersihkan data, menyiapkan laporan rutin, memahami basis kode (codebase), hingga menguji alat internal.

Gabriel menekankan bahwa pekerja kantoran tidak harus menjadi programmer untuk memanfaatkan AI. Namun, mereka perlu memiliki kemampuan untuk menjelaskan tujuan pekerjaan, memberikan konteks yang memadai, menetapkan batasan, meninjau hasil, serta melakukan iterasi guna memastikan output AI sesuai dengan kebutuhan.

Pekerjaan yang Kini Banyak Dibantu AI

OpenAI menginformasikan bahwa penggunaan Codex telah meluas ke berbagai profesi di luar sektor perangkat lunak.

Tim komunikasi, misalnya, menggunakan Codex untuk membuat kalender konten, mengembangkan template yang dapat digunakan berulang kali, serta membangun alur kerja sederhana untuk memantau unggahan di media sosial.

Sementara itu, analis data dan peneliti memanfaatkan Codex untuk membersihkan kumpulan data, mengidentifikasi pola, dan mengubah hasil analisis menjadi laporan yang siap digunakan.

Product manager juga dapat menjadikan Codex sebagai asisten kerja untuk membantu menyiapkan agenda harian dan mengelola berbagai tugas administratif.

Dari Ide Menjadi Prototipe dalam Hitungan Jam

Gabriel turut berbagi contoh bagaimana AI dapat mempercepat proses pekerjaan. Seorang manajer produk di tim Codex menggunakan AI untuk mengumpulkan informasi dari Slack, dokumen, Linear, dan email. Informasi tersebut kemudian diolah menjadi prototipe produk atau situs web yang siap diuji oleh tim.

“Alih-alih hanya menjelaskan ide melalui dokumen statis, timnya memiliki sesuatu yang nyata untuk diuji, didiskusikan, dan disempurnakan,” jelas Gabriel.

Contoh lain datang dari maskapai Virgin Atlantic. Tim produk digital perusahaan tersebut memakai ChatGPT Work yang didukung teknologi Codex untuk membandingkan pengalaman pelanggan dengan maskapai pesaing. Hasilnya kemudian disusun menjadi data terstruktur sebagai dasar strategi bisnis lima tahun ke depan.

Gabriel menambahkan bahwa pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu berminggu-minggu kini dapat diselesaikan hanya dalam beberapa jam. Hal ini memungkinkan tim untuk lebih fokus pada aspek analisis dan pengambilan keputusan.

Meskipun kemampuannya terus berkembang, OpenAI menegaskan bahwa AI tidak dirancang untuk menggantikan peran manusia.

“Codex tidak menggantikan keahlian manusia. Teknologi ini dirancang untuk membantu mempercepat terciptanya draf awal lebih cepat, sementara pertimbangan dan peninjauan mendalam tetap berada di tangan manusia,” pungkas Gabriel.