Jurnal Indonesia — JAKARTA – Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya dengan erupsi yang terjadi pada Senin pagi, 7 September 2026. Badan Geologi mencatat total empat kali gempa hembusan dalam periode pemantauan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB.
Berdasarkan laporan Badan Geologi melalui akun X (Twitter), gunung api tersebut dilaporkan tertutup kabut dengan asap kawah tidak teramati. Kondisi cuaca berawan dengan angin bertiup lemah hingga sedang ke arah barat laut, dengan suhu udara berkisar 25,7-26,4 derajat Celsius dan kelembaban 79-82%.
Dalam catatan kegempaan, selain empat gempa hembusan yang memiliki amplitudo 30-41 mm dan durasi 22-39 detik, terdeteksi pula 34 kali gempa low frequency dengan amplitudo 19-45 mm serta durasi 6-19 detik. Aktivitas lainnya berupa 44 kali gempa hybrid/fase banyak dengan amplitudo 20-46 mm dan lama gempa 7-23 detik.
Laporan tersebut juga merinci adanya 17 kali gempa harmonik dengan amplitudo 24-46 mm dan durasi 23-387 detik. Sementara itu, satu kali gempa tremor menerus terekam dengan amplitudo 5-15 mm, didominasi pada angka 10 mm.
Sehubungan dengan peningkatan aktivitas ini, Badan Geologi mengimbau masyarakat untuk tidak mendekati Gunung Anak Krakatau. Jarak aman yang direkomendasikan adalah tidak beraktivitas dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Sebelumnya, pada Minggu malam, 6 September 2026, Gunung Anak Krakatau juga tercatat mengalami erupsi pada pukul 20.23 WIB. Menurut Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), visual letusan tidak teramati, namun aktivitas tersebut terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 58 mm dan durasi 44 detik.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.