Jurnal Indonesia — JAKARTA – Ketua Komisi V DPR RI, Lasarus, menanggapi laporan dari berbagai lembaga terkait mengenai penurunan intensitas erupsi Gunung Anak Krakatau. Meskipun aktivitas gunung tersebut dilaporkan mulai mereda, ia menekankan pentingnya pemantauan yang berkelanjutan.
Menurut informasi yang diterima dari Badan Geologi dan BMKG, puncak erupsi Gunung Anak Krakatau tampaknya telah berlalu, dan saat ini hanya terjadi letusan-letusan kecil. “Iya erupsinya menurun kan sekarang intensitasnya, tetap dilakukan pemantaunnya, tetapi yang jelas kan intensitasnya menurun, kalau menurut info Badan Geologi dengan BMKG sih erupsi puncaknya sudah lewat katanya, berarti sekarang tinggal erupsi-erupsi kecl saja,” ujar Lasarus saat dihubungi, Jumat (11/9/2026).
Lasarus menambahkan bahwa aktivitas gunung berapi aktif ini masih terus terjadi secara konstan. Oleh karena itu, pengawasan terhadap Gunung Anak Krakatau harus tetap dilakukan karena belum dapat dipastikan apakah letusan besar dapat kembali terjadi. “Memang masih konstan, dan kalau bicara tetap diawasi ya harus tetap diawasi, kita nggak bisa duga apakah nanti akan ada keluar letusan besar lagi atau nggak itu sesuatu yang belum bisa dipelajari, tetapi kalau lihat dari aktivias kegempaannya, informasinya menurun nggak sekencang waktu letusan hebatnya kemarin,” tuturnya.
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tetap waspada dan memantau perkembangan aktivitas gunung tersebut melalui lembaga-lembaga yang berwenang. “Intinya masyarakat dengar petunjuk dari badan-badan terkait, BMKG, Badan Geologi, seterusnya yang berwenang untuk itu, jadi masyarakat dengar informasi dari badan-badan itu aja, jangan dengar isu dan lain sbeagainya,” pesan Lasarus.
Data terbaru menunjukkan bahwa sejak Selasa, 8 September, hingga Kamis, 10 September, Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi dengan durasi singkat, hanya beberapa detik. Erupsi terakhir tercatat pagi ini dengan amplitudo maksimum 47 mm dan durasi 17 detik.
PVMBG melaporkan bahwa Gunung Anak Krakatau telah kembali ke karakter erupsi biasanya yang berdurasi singkat. Saat ini, abu vulkanik yang dikeluarkan hanya tersebar di sekitar gunung dalam jumlah kecil. “Jadi abunya hanya sedikit dan jatuh di sekitar gunung saja,” jelasnya.
Meskipun demikian, PVMBG tidak dapat memastikan kapan erupsi selanjutnya akan terjadi, namun menyatakan bahwa erupsi masih mungkin terjadi mengingat aktivitas Gunung Anak Krakatau yang masih tinggi. “Kemungkinan erupsi ada karena gunungnya aktif, hanya tidak bisa kita pastikan kapannya. Data kegempaan sudah menurun signifikan, sehingga erupsi yang terjadi dipastikan hanya erupsi berenergi rendah seperti normalnya erupsi Krakatau sebelum erupsi menerus 25 jam di tanggal 4-6 September,” pungkasnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.