Jurnal Indonesia — Tim SAR gabungan masih melanjutkan pencarian terhadap lima jurnalis yang dilaporkan hilang kontak saat bertolak untuk meliput aktivitas Gunung Anak Krakatau di Perairan Selat Sunda. Di tengah upaya pencarian, Mansyur Suryana, ayah dari jurnalis Muhammad Bagus Khoirunas, tak henti menanti kabar baik kepulangan putra kandungnya.
Muhammad Bagus Khoirunas merupakan jurnalis dari Antara yang bertugas meliput bersama jurnalis lainnya: Ari Basuki dari Merdeka.com, Yudistiro Pranoto dari iNews, Firman Daus dari Anadolu Agency, dan Donal Husni yang berstatus freelance. Mereka dijadwalkan berangkat untuk meliput erupsi Gunung Anak Krakatau (GAK) pada Senin, 7 September, sekitar pukul 14.00 WIB.
Kelima jurnalis tersebut berlayar bersama tiga awak kapal yang terdiri dari Warta selaku kapten, Sukarman sebagai ABK, dan Heriyanto yang bertindak sebagai pemandu. Mansyur mengaku menerima informasi terakhir mengenai keberadaan Bagus di wilayah Carita pada Senin sore. Namun, ia mengaku tidak mengetahui rencana putranya untuk menuju Gunung Anak Krakatau.
“Saya ketemu wartawan Jacki dari Banten, itu saya tanya Jacki, ‘Jack lihat Bagus tidak’, lihat katanya, nah itu waktu pukul 15.00 WIB sore hari Senin. ‘Kemana kata saya’, dia jawab Bagus ke Pantai Carita, saya enggak tahu, enggak ada firasat, mungkin saya rasa ke Carita hanya ngambil gambar, suasana, udah gitu saya enggak kejar,” ungkap Mansyur di Posko Operasi SAR Gabungan, Pantai Carita, Pandeglang, Jumat (11/9/2020).
Mansyur menambahkan, jika ia mengetahui putranya akan berangkat ke perairan Selat Sunda, ia pasti akan melarangnya. Menurutnya, kondisi cuaca di perairan tersebut saat itu masih belum stabil dan berisiko.
“Kalau mau (mantau) erupsi Gunung Anak Krakatau, mau mantau dengan anak-anak pewarta, ya kalau tahu pasti saya larang,” tuturnya.
Saat ini, Bagus tercatat sebagai mahasiswa semester 8 di Universitas Pamulang. Rencananya, ia akan menyelesaikan studinya pada tahun 2027.
“Dia sekolahnya di universitas Uhamka Jakarta prodi Psikolog hanya semester 6, kemudian dia sekarang melanjutkan di Universitas Pamulang Serang semester 6 ya, nanti 2027 katanya bilang ke saya dia lulus, karena Antara membutuhkan S1,” jelas Mansyur.
Meskipun menyadari risiko pekerjaan yang digeluti putranya, Mansyur mengaku ikhlas terhadap nasib yang mungkin menimpa Bagus. Namun, ia tetap berharap dan setia menunggu kabar baik mengenai keselamatan anaknya.
“Dan saya juga ikhlas lah kalau ada hal-hal yang tidak diinginkan, ya namanya juga bekerja ya kita untuk kemaslahatan untuk masyarakat dan negara karena ada nilai ibadahnya itu namanya syahid, tapi mudah-mudahan selamat ya, sampai saat ini saya menunggu kepulangan kedatangan anak saya, tapi saya optimis bisa ketemu, karena berkat dari doa-doa teman,” tutupnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.