Jurnal Indonesia — Tangerang – Setelah sempat ditutup selama dua hari akibat sebaran abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau, Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) akhirnya kembali beroperasi normal pada Selasa (8/9). Penutupan yang dimulai sejak Minggu (6/9) tersebut menyebabkan banyak penerbangan domestik maupun internasional harus dibatalkan atau ditunda, memaksa para calon penumpang untuk bersabar menunggu.
Selama masa penantian tersebut, berbagai cerita mewarnai pengalaman para calon penumpang. Salah satunya Mulyani, seorang calon tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia yang rencananya akan berangkat ke Taiwan. Perjalanannya tertunda selama dua hari, dari tanggal 6 hingga 7 September. Ia mengaku lega akhirnya dapat melanjutkan perjalanan. “Seneng banget sih, ini kan yang ditunggu-tunggu kita calon-calon TKW ya, sama TKL,” ujarnya penuh syukur saat ditemui di Terminal 3 Bandara Soetta.
Kisah serupa datang dari Mark, seorang warga negara Hong Kong. Rencananya terbang pada hari Minggu harus tertunda hingga Selasa. “Jadi kami berencana terbang pada hari Minggu, tapi sekarang kami harus tinggal sampai hari Selasa,” ucap Mark. Ia mengaku sangat lega akhirnya bisa kembali ke Hong Kong. “Ya, sangat, sangat lega bisa terbang hari ini. Ini bukan… ini bukan salah siapa-siapa. Ini hanya kejadian alam, jadi ya, kami hanya menunggu sampai kami bisa mendapatkan penerbangan dan tidak ada hal lain yang bisa kami lakukan,” imbuhnya, menunjukkan sikap pasrah terhadap fenomena alam.
Sementara itu, Mariyati (50), penumpang asal Lampung yang sedang transit di Bandara Soetta untuk melanjutkan perjalanan ke Kalimantan, harus menghadapi penantian yang lebih panjang. Bersama anak dan cucunya, ia terpaksa menginap di bandara sejak Sabtu malam. “Di sini sudah mau empat hari, dari Sabtu malam saya berangkat, sampai sini (Bandara Soetta) jam 02.00 WIB subuh,” ujar Mariyati di Terminal 1B.
Ia bercerita bahwa penerbangannya dibatalkan karena sebaran abu vulkanik yang mencapai wilayah Banten. “Nunggu di bandara ini saja. Ya duduk-duduk, sampai bosan, sampai kesal rasanya hati saya,” keluhnya. Mariyati memilih bertahan di bandara karena tidak familiar dengan area sekitar dan untuk mengantisipasi pembengkakan biaya. “Nggak tahu, saya baru kali ini ke sini jadi nggak tahu mau menginap di mana. Di sini saja di bandara paling mudah,” katanya.
Kecemasan sempat dirasakan Mariyati terkait kepastian keberangkatannya. “Aduh, rasanya deg-degan. Kapan bisanya? Bisa enggak berangkatnya, kata saya. Nanti dibatalkan lagi kata saya, sudah capek,” tuturnya. Kesulitan juga dihadapi dalam hal konsumsi, karena harga makanan di dalam bandara relatif mahal. “Pertamanya ya saya enggak makan, diam saja di sini, kalau di sini mahal. Ya enggak ada nasi seperti yang biasa. Makanannya cuma bakso, es saja, roti. Mahal-mahal lagi ya,” keluhnya.
Beruntung, anak Mariyati mendapat bantuan dari aparat kepolisian di bandara. Polisi menawarkan tumpangan untuk membeli makanan di luar area bandara setelah melihat anak Mariyati tampak kelelahan mencari makan. “Anak saya kan cari-cari nasi, kecapekan, enggak ketemu. Jadi duduk-duduk dia merokok. Terus ditanya sama polisi, ‘Sudah makan belum? Kenapa belum makan? Sudah ikut saya saja, saya antar,’ kata polisinya,” ungkap Mariyati.
Setelah menunggu hampir empat hari, Mariyati akhirnya mendapatkan kepastian penerbangan pada pukul 13.00 WIB, seiring dengan kembali beroperasinya Bandara Soekarno-Hatta. “Jam 13.00 WIB ini, alhamdulillah sudah pasti bisa. Mudah-mudahanlah, jadi berangkat hari ini. Enggak ada abu vulkanik lagi, jangan, alhamdulillah,” imbuhnya, mengakhiri penantian panjangnya.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.