Jurnal Indonesia — Banten – Tim gabungan yang terdiri dari personel Mabes Polri, Ditpolairud Polda Banten, dan Basarnas Banten dikerahkan untuk mencari lima jurnalis yang dilaporkan hilang di perairan Selat Sunda. Pencarian ini dilakukan setelah rombongan jurnalis tersebut hilang kontak saat hendak meliput erupsi Gunung Anak Krakatau.
Kepala Bidang Humas Polda Banten, Kombes Maruli Hutapea, menjelaskan bahwa pencarian difokuskan di wilayah perairan Carita dan sekitarnya. Dukungan pencarian diberikan oleh Kapal Basarnas KN Tetuka yang bergerak dari Dermaga Pelabuhan BBJ Bojonegara. “Kapal masih melakukan pencarian terus di laut selama tiga hari ini,” ujar Maruli kepada wartawan pada Selasa (8/9/2026).
Sebanyak 23 personel terlibat dalam operasi pencarian ini, didukung oleh penggunaan kapal yang akan beroperasi di laut selama tiga hari. Kondisi cuaca di lokasi pencarian dilaporkan cerah berawan dengan kecepatan angin sekitar 16,7 knot dan tinggi gelombang berkisar 0,4 hingga 1 meter. Terdapat sebaran abu vulkanik dengan jarak pandang sekitar satu mil.
Menurut Maruli, pihaknya bersama Basarnas akan terus berupaya semaksimal mungkin dalam pencarian dan pemantauan perkembangan situasi. Masyarakat diimbau untuk tetap tenang dan tidak mendekati kawasan yang berpotensi membahayakan keselamatan. “Kami bersama Basarnas akan terus melakukan upaya pencarian secara maksimal dan menyampaikan perkembangan informasi sesuai hasil di lapangan,” ucapnya.
Lokasi yang diduga menjadi titik terakhir rombongan adalah perairan Selat Sunda, Kabupaten Pandeglang, dengan jarak sekitar 9,98 nautical mile (NM) dari RIB 02 BTN. Estimasi waktu tempuh ke lokasi tersebut sekitar 40 menit.
Data sementara menyebutkan rombongan yang belum ditemukan terdiri dari M. Bagus Khoirunnas (jurnalis Antara), Ari Basuki (jurnalis Merdeka), Yudhis (jurnalis iNews), Daus (jurnalis Anadolu), dan Donal (freelance). Selain itu, dua orang lainnya masih dalam proses pendataan.
Rombongan jurnalis tersebut bertolak dari Dermaga Pagedongan, Carita, pada Senin (7/9) sekitar pukul 14.00 WIB menggunakan kapal speedboat untuk melakukan peliputan aktivitas Gunung Anak Krakatau. Komunikasi terakhir diketahui terjadi sekitar pukul 14.42 WIB, saat salah satu anggota rombongan mengirimkan lokasi terakhir kepada rekannya. Selanjutnya, sekitar pukul 15.04 WIB, komunikasi dengan rombongan tersebut terputus.
Ikuti Jurnal Indonesia

Masuk dengan Google untuk ikut berkomentar.