Jurnal Indonesia — OpenAI memperkenalkan ChatGPT Work sebagai pengembangan besar dari layanan ChatGPT yang selama ini dikenal sebagai chatbot penjawab. Berbeda dengan versi sebelumnya, ChatGPT Work dirancang sebagai AI agent yang dapat menyelesaikan tugas kerja secara otomatis, mulai dari mengelola email hingga membuat website.
Pada sesi demonstrasi, OpenAI menampilkan kemampuan ChatGPT Work untuk terhubung dengan berbagai aplikasi produktivitas, memahami konteks pekerjaan pengguna, dan menghasilkan dokumen siap pakai. Berikut rangkuman tujuh hal yang dapat dilakukan ChatGPT Work.
1. Mengatur Email, Slack, dan Kalender Sekaligus
Salah satu fitur utama adalah kemampuan menghubungkan berbagai aplikasi produktivitas di satu tempat. OpenAI mendemonstrasikan bagaimana ChatGPT Work membaca informasi dari Gmail, Slack, dan Google Calendar, lalu menyusun daftar prioritas berdasarkan email yang belum ditindaklanjuti, jadwal rapat, dan pesan penting.
Contoh perintah pengguna yang ditunjukkan adalah: “Periksa Gmail, Slack, dan kalender saya, lalu beri tahu pekerjaan apa yang harus saya selesaikan hari ini.” Dalam beberapa menit, ChatGPT Work menyusun daftar tugas lengkap beserta rekomendasi urutan pengerjaannya.
2. Menjadi Asisten Kerja atau “Chief of Staff”
OpenAI menyebut ChatGPT Work bisa berfungsi layaknya seorang Chief of Staff atau asisten pribadi. AI ini tidak sekadar mengingatkan agenda, tetapi dapat mengidentifikasi deadline, mengingatkan anggota tim melalui Slack, memberikan notifikasi tugas mendesak, dan membantu menjaga koordinasi tim.
Dengan demikian, pengguna tidak perlu memantau banyak aplikasi secara manual untuk memastikan alur kerja berjalan.
3. Menjalankan Tugas Otomatis Sesuai Jadwal
Fitur Scheduled Tasks memungkinkan pengguna meminta ChatGPT melakukan pekerjaan tertentu secara otomatis pada waktu yang ditetapkan. Contoh penggunaan yang ditunjukkan meliputi membuat laporan mingguan setiap Jumat sore, mengirim ringkasan pekerjaan setiap pagi, mengingatkan tim mengenai deadline pada jam tertentu, dan membuat daftar prioritas kerja di awal hari.
Pengguna cukup memberi instruksi dalam bahasa alami; ChatGPT akan mengatur proses di belakang layar tanpa perlu kemampuan pemrograman.
4. Membuat Presentasi, Spreadsheet, Dashboard, hingga Website
Dalam demonstrasi, ChatGPT Work mampu menghasilkan berbagai dokumen kerja secara otomatis, termasuk presentasi, spreadsheet, dashboard interaktif, website, dan laporan lengkap — semuanya dibuat berdasarkan satu perintah.
Sebagai contoh, pengguna dapat meminta AI menganalisis data pemasaran lalu menghasilkan spreadsheet, slide presentasi, dan dashboard yang siap dipakai untuk rapat pimpinan.
5. Mengolah Banyak File Sekaligus
ChatGPT Work mampu menggabungkan berbagai jenis file — bukan hanya teks. AI ini dapat memproses foto, spreadsheet CSV, Apple Notes, dan dokumen kerja lainnya secara bersamaan.
Demonstrasi menunjukkan ChatGPT Work memilih foto terbaik dari ratusan gambar sebuah acara, membaca catatan pengguna, menganalisis statistik media sosial, lalu menghasilkan carousel LinkedIn, website internal, dan laporan kegiatan lengkap secara otomatis.
6. Terhubung dengan Berbagai Aplikasi Kerja
ChatGPT Work mendukung integrasi dengan layanan populer yang umum digunakan perusahaan dan individu, termasuk Gmail, Google Calendar, Slack, Microsoft 365, Outlook, GitHub, dan Canva. OpenAI juga menunjukkan kemampuan AI berinteraksi dengan aplikasi desktop, seperti membaca Apple Notes dan mengakses file lokal di komputer pengguna.
Kemampuan ini memungkinkan ChatGPT mengumpulkan informasi dari berbagai sumber sebelum menyelesaikan tugas yang diminta.
7. Bekerja di Desktop, Browser, dan Ponsel
ChatGPT Work tersedia di perangkat desktop, melalui browser, dan pada ponsel. Seluruh percakapan tersinkronisasi, sehingga pengguna dapat memulai pekerjaan di komputer lalu melanjutkannya di perangkat seluler.
Untuk pekerjaan yang memerlukan waktu lama, OpenAI menyediakan dukungan menjalankan tugas lewat layanan cloud agar proses tetap berjalan meskipun komputer dimatikan.
Simak Video “Video: Microsoft-Apple Minta Pengguna Tak Pakai Google Chrome, Kenapa?”
Ikuti Jurnal Indonesia
